Oleh: Salsabila Winatasya (NPM 2401110034)
Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang
ADA ketakutan yang merayap di balik angka-angka digital bursa valuta asing belakangan ini. Ketika nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS merosot tajam hingga menembus level psikologis baru Rp 18.000, kita tahu ada yang sedang tidak baik-baik saja. Angka ini meleset jauh dari asumsi makro APBN 2025 yang mematok kurs di level aman Rp 16.000.
Bagi sebagian elit, ini mungkin hanya fluktuasi angka di layar komputer. Namun bagi rakyat bawah dan generasi muda, ini adalah badai yang perlahan mencekik daya beli dan melumpuhkan masa depan. Narasi bahwa ekonomi kita “tangguh” seketika runtuh begitu kita melihat rapuhnya fondasi struktur ekonomi domestik.
Fakta yang sering luput dari kesadaran publik adalah bagaimana postur pendapatan negara kita sebenarnya ditopang. Indonesia bukanlah raksasa manufaktur yang kaya raya karena ekspor. Struktur penerimaan kita masih sangat bergantung pada keringat pajaknya sendiri.
Berdasarkan dokumen Informasi APBN 2025, target penerimaan perpajakan mencapai Rp 2.490,9 triliun, memegang porsi raksasa sebesar 82,8% dari total pendapatan negara yang diproyeksikan senilai Rp3.005,1 triliun.
Ketika penerimaan dalam negeri diperas dari sektor pajak, mesin penghasil devisa (ekspor) kita justru sedang lesu. Data BPS per Maret 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia turun 3,10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kita gagal memanfaatkan momentum dolarnya yang mahal untuk meraup keuntungan, karena produk industri kita belum mampu bersaing di pasar global. Ironinya, di saat ekspor melempem, industri dalam negeri justru mengalami “kecanduan” akut terhadap bahan baku impor.
Tingginya angka impor bahan baku ini (70,42%) menjadi bukti telak, jika pasokan dunia luar terganggu atau harga dolar naik, industri kita langsung megap-megap. Ketika Rupiah menyentuh Rp 18.000, biaya produksi otomatis membengkak. Pengusaha dihadapkan pada dua pilihan pahit, menaikkan harga jual yang akan memukul daya beli rakyat, atau gulung tikar karena modalnya habis terbakar.
Ketergantungan impor ini menciptakan efek domino berupa inflasi yang liar di pasar domestik. Contoh paling ironis dan memilukan ada pada sepotong tempe. Lauk yang diklaim paling merakyat ini ternyata menyimpan rapuhnya ekonomi kita, bahan baku utamanya, kacang kedelai, mayoritas masih diimpor. Saat Dolar menyentuh Rp 18.000, harga tempe di pasar tradisional meroket, dan masyarakat kecil-lah yang dipaksa menanggung beban tersebut.
Pelaku usaha hanya memiliki dua pilihan yang sama sama pahit. Mereka terpaksa menaikkan harga jual barang barang yang sudah pasti akan mencekik daya beli rakyat atau memilih gulung tikar karena tidak sanggup lagi menanggung beban operasional yang terus terusan membakar modal.
Ketergantungan impor yang sangat akut ini menciptakan efek domino berupa badai inflasi yang liar ketika nilai tukar Dolar Amerika Serikat semakin tidak terbendung. Daya beli masyarakat langsung hancur lebur diterjang rentetan lonjakan harga barang barang kebutuhan pokok. Ironi
paling memilukan dapat dilihat dengan jelas dari sepotong tempe.
Makanan yang selama ini selalu
diklaim sebagai lauk paling merakyat tersebut ternyata menyimpan kepahitan ekonomi yang mendalam karena bahan baku utamanya berupa kacang kedelai masih sangat bergantung pada keran impor. Ketika kurs menembus level Rp 18.000 per Dolar Amerika Serikat biaya produksi tempe meroket sangat tajam dan pada akhirnya rakyat kecil yang terus terusan dipaksa menanggung seluruh beban kenaikan harga tersebut.
Bagi kelas menengah dan generasi muda dampak yang dirasakan jauh lebih brutal dan melumpuhkan. Mimpi mimpi mereka perlahan lahan diubah menjadi sebuah kemewahan yang mustahil untuk dijangkau. Barang barang teknologi esensial yang menjadi alat utama penunjang produktivitas dan pekerjaan harganya melonjak menjadi sangat tidak masuk akal. Rencana mulia untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi hingga cita cita membangun kemandirian dengan memiliki hunian pribadi ikut kandas tergerus oleh membengkaknya biaya hidup sehari
hari.
Penderitaan ini semakin diperparah dengan realitas kebijakan moneter saat ini. Langkah Bank Indonesia yang terpaksa menahan suku bunga acuan demi memfokuskan pandangan pada penyelamatan Rupiah di tengah gempuran tekanan global justru membawa konsekuensi logis yang
menyakitkan di lapangan. Keputusan menahan laju suku bunga ini secara otomatis membuat skema pembiayaan dan cicilan kredit perumahan rakyat tidak kunjung turun dan semakin mencekik leher generasi muda yang baru saja mulai menata kehidupan mereka. Keinginan untuk
sekadar memiliki tempat tinggal kini berubah menjadi ilusi finansial yang terus menjauh dari jangkauan.
Dampak paling menyeramkan dari melemahnya nilai tukar ini sesungguhnya bermuara pada hancurnya sentimen ekonomi di mata dunia internasional. Ketidakstabilan kurs menciptakan teror
psikologis bagi para pemilik modal besar. Investor asing yang mencium aroma ketidakpastian akan beramai ramai mencabut dana investasi mereka dari pasar domestik guna mencari instrumen pelarian yang lebih aman di luar negeri. Pelarian modal secara besar besaran ini akan memicu efek spiral yang mematikan di mana Rupiah akan dibiarkan semakin kehilangan harganya dan fundamental perekonomian nasional akan semakin goyah tanpa adanya arus kas asing yang menopang kelangsungan bisnis di dalam negeri.
Pemerintah tidak bisa terus-terusan mengambil jalan pintas dengan hanya mengandalkan perasan pajak dari rakyat di saat daya beli mereka sedang luluh lantak. Kebijakan tambal sulam moneter tidak akan cukup tanpa adanya pembenahan struktural yang radikal di sektor riil.
Indonesia harus segera membangun kemandirian bahan baku industri dan kedaulatan pangan. Tanpa itu, masyarakat kelas bawah dan generasi muda hanya akan terus-menerus dijadikan tumbal dari kejamnya permainan kurs global.
Angka Rp 18.000 per Dolar AS bukan sekadar statistik ekonomi. Ia adalah monumen kegagalan struktural yang harus dibayar mahal oleh ibu-ibu di pasar yang kesulitan membeli tempe, dan anak-anak muda yang terpaksa mengubur mimpi memiliki rumah sendiri. *







