Ironi Antroposfer: Ketika Sang Pemimpin Bumi Menjadi Agen Perusak Alam

Mgs Ahmad Alfathurrahman Syahly.

Oleh: Mgs Ahmad Alfathurrahman Syahly (NPM: 2301110163).

Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.

MANUSIA sejatinya adalah mahakarya ciptaan Tuhan yang dianugerahi kehendak bebas (free will) serta akal budi. Di pundak manusialah diletakkan amanah besar menjadi pemimpin (khalifah) yang membawa kebaikan, merawat, dan memajukan peradaban di muka bumi.

Namun, jika kita memandang realitas hari ini, sebuah pertanyaan besar menyeruak: Mengapa manusia yang seharusnya menjadi penjaga alam, justru bertransformasi menjadi agen utama perusak alam semesta? Seiring berjalannya waktu dan pergantian zaman, kecerdasan kita justru kerap digerus oleh keserakahan kolektif.

Sebelum fajar Revolusi Industri menyingsing di Inggris, sejarah mencatat bahwa manusia purba dan abad pertengahan telah membangun berbagai peradaban yang luar biasa canggih. Kita diberkahi kemampuan berpikir untuk mencari solusi demi keberlangsungan hidup tanpa serta-merta menghancurkan ruang hidup manusia.

Sistem irigasi yang telah diciptakan oleh manusia pada peradaban mesopotamia kuno, roda untuk mempermudah mengangkut dan memindahkan barang, tulisan paku/ (Cuneiform) yang memudahkan untuk menulis, mencatat dan mengingat kejadian tersebut dan juga bentuk komunikasi yang awet dan tidak/ susah dihilangkan selagi tidak di bakar atau dihancurkan.

Inilah bukti sahih bahwa manusia adalah makhluk modern yang melampaui batas insting makhluk hidup lainnya. Sayangnya, ketika kota-kota berkembang menjadi kerajaan dan kekaisaran besar, ego politik dan ambisi untuk mendominasi mulai menyusup. Di sinilah awal mula pergeseran orientasi manusia: dari sekadar “bertahan hidup” menjadi “menguasai tanpa batas.”

Jika kita merunut sejarah Eropa pada abad ke-14, dunia sempat diguncang oleh pandemi Black Death (Maut Hitam). Wabah virus dan bakteri ini memicu angka kematian yang sangat mengerikan, menyapu bersih hampir sepertiga populasi Eropa, mulai dari kaum bangsawan hingga yang paling krusial, kelas bawah dan kaum petani. Krisis populasi petani ini sempat melumpuhkan sektor agrikultur dan menguras kas kerajaan.

Angka kematian pada saat itu sangat gila dan sempat menjadi momok bagi akhir kehidupan manusia di bumi karena atas dosa-dosa yang telah diperbuat oleh manusia, semua orang terkena dan virus menyebar dengan cepat, tak luput juga para bangsawan dan keluarga kerajaan ikut terkena, dan yang paling penting dan sangat krusial adalah dari kalangan kelas bawah dan petani, yang memiliki angka penyebaran virus dan kematian yang banyak dan signifikan, dan disinilah awal mulanya kenapa revolusi industri terbentuk.

Karena banyaknya angka kematian dan yang terkhususnya di kalangan kelas bawah, pertanian dan perpanenan bahan baku dan makanan berkurang dan agrikultur sulit berjalan karena kurangnya populasi dari kalangan petani dan kelas bawah, hal ini membuat banyak kerugian dari kas kerajaan karena kurangnya bahan baku dan perekonomian pada saat itu. Selang beberapa abad pada masa itu, orang orang lebih banyak memilih alternatif yang lain seperti mengembangkan produk dan teknologi yang mempermudah untuk keberlangsungan hidup.

Pada masa renaisans eropa telah keluar dari peradaban kegelapan dan mulai untuk mengembangkan dan memulai/ mengembalikan peradaban seni, ilmu, dan sastra yang pada sebelumnya orang-orang tidak terlalu memfokuskan itu dan juga kurang populer dan juga dari pihak gereja yang ketat atau sensitif dengan hal-hal yang seperti itu.

Pada masa itu, tepatnya di Kota Firenze/ Florence, Venesia/ Venice, Milan, dan Roma banyak tokoh tokoh yang terkenal dan sebagai pelopor atau trend tentang kesenian seperti Leonardo da Vinci dan juga Michelangelo, dan juga munculnya kembali naskah atau teks dari peradaban romawi dan yunani kuno serta kembalinya ketertarikan orang orang dan kembalinya teks, tulisan atau naskah dari pemikiran pemikiran peradaban kuno serta sejarah yang tidak kalah penting yang lainnya yang membuat orang pada melek dan memulai untuk melakukan banyak perubahan pada zaman itu.

Tahun 1712 bertepatnya di Inggris, Thomas Newcomen menemukan dan memperkenalkan teknologi  mesin uap, dan James Watt (1765) seorang insinyur asal Skotlandia sebagai penyempurna dan pemicu dari penyebabnya revolusi industri di Inggris. Pada zaman itu, orang-orang telah mempopulerkan untuk pembuatan massal dan kerja pabrik serta teknologi yang memadai sehingga tidak membutuhkan hewan atau cara lama agar membuat keberlangsungan hidup. Setelah itu banyak lagi munculnya inovasi dan teknologi yang mempermudah dan mengubah cara kehidupan dan zaman serta membuat banyaknya peluang dan cara baru dan tidak beketergantungan dengan cara yang lama.

Dengan adanya banyak inovasi dan teknologi yang telah dipopulerkan manusia kebablasan untuk membuat teknologi yang hanya memikirkan keuntungan mereka semata dan melupakan atau tidak memikirkan dampak apa yang akan terjadi pada alam sekitar dan kehidupan sekitar. Ini bisa terjadi karena ambisi dari keegoisan untuk manusia itu sendiri dan juga keserakahan untuk terus berkembang, tetapi efek dampaknya adalah buruk dan membuat keburukan, kerusakan serta kerugian bagi alam dan semesta.

Padahal manusia perlu dan butuh dengan alam? Tak luput dengan kemajuan, banyak politik dari sebuah negara untuk melakukan trade, serta politik untuk menjadi dunia dan negara yang paling mendominasi. Tetapi, apakah hal seperti itu tanpa adanya pengetahuan dan kebijaksanaan harus terus dilakukan?.

Manusia sekarang dihadapi oleh dilema dan juga boomerang karena tujuan untuk membuat kebaikan tetapi terkadang lupa dan hanya memikirkan diri sendiri. Tanpa alam tak akan ada manusia dan itulah esensinya dari kehidupan yang telah diciptakan oleh tuhan untuk manusia sebagai penjaga dan pemimpin di muka bumi dan semesta.

Kita harus mengurangi pikiran dan ambisi karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Tanpa adanya makna dan pengetahuan sungguh ironi. Kita hanya bertujuan untuk memajukan zaman tetapi kadang banyak orang yang lupa akan apa yang telah mereka lakukan, dampak, dan perubahan yang mereka buat sendiri.

Memang, tidak semua manusia menutup mata. Saat ini telah banyak lahir gerakan hijau, komitmen global (seperti Paris Agreement), serta teknologi ramah lingkungan. Namun, kadar kesadaran manusia berbeda-beda dan sering kali fluktuatif. Ada yang sadar hari ini, namun esok kembali abai. Ada pula yang baru tersadar ketika bencana banjir, tanah longsor, atau polusi udara ekstrem sudah mencekik leher mereka sendiri.

​Sifat abai dan khilaf yang terus dimaklumi adalah bentuk kemaluan terbesar manusia. Kita tidak boleh menormalkan kerusakan atas nama kemajuan zaman. Sudah saatnya manusia melakukan pertobatan ekologis, meminta maaf kepada alam dan Sang Pencipta dengan tindakan nyata, bukan sekadar retorika di atas kertas.

Sebagai penutup, manusia memang telah membawa kemajuan luar biasa bagi peradaban. Namun, kemajuan tanpa kedewasaan moral adalah sebuah kebodohan yang nyata. Mengutip fisikawan tersohor, Albert Einstein:

​”Ada dua hal yang tidak terbatas di dunia ini: alam semesta dan kebodohan manusia dan saya tidak yakin tentang alam semesta.”

​Mari buang jauh-jauh sifat kekanak-kanakan yang hanya ingin mengeruk keuntungan jangka pendek tanpa memikirkan warisan untuk generasi masa depan. Sebagai calon-calon pemimpin dan manajer di masa depan, kita harus lebih bijaksana, dewasa, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Setiap kebijakan ekonomi yang kita ambil harus selaras dengan kelestarian alam, karena menjaga bumi ini adalah tugas suci kita sebagai pemimpin sejatinya.

Stay safe, stay healthy, dan mari mulailah peduli pada bumi dari diri kita sendiri. Terima kasih. *

Pos terkait