Tren Mental Health: Pedang Bermata Dua di Era Generasi Z

Muhammad Reza Eka Putra Ziu. (FOTO: IST).

Disusun Oleh:

Muhammad Reza Eka Putra Ziu.
Mahasiswa Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tridinanti (Unanti) Palembang.

GENERASI Z (Gen Z), yang akrab dengan digital, telah berhasil menjadikan isu kesehatan mental dari topik yang tabu menjadi tren budaya yang dominan. Keberhasilan ini layak diapresiasi, tetapi perlu diwaspadai agar tren ini tidak kontraproduktif terhadap kesehatan mental itu sendiri.

Gen Z menggunakan media sosial (TikTok, Instagram, X) sebagai platform utama untuk mendefinisikan ulang kesehatan mental. Mereka menciptakan “ruang aman” digital, di mana pengalaman pribadi mengenai kecemasan, depresi, atau burnout dibagikan secara terbuka.

Hampir semua Generasi Z (Gen) Z membahas Mental Health dari repost quote, sharing cerita anxiety di story, sampai demand lebih banyak layanan psikolog dan psikiater.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) menyebut bahwa antara tahun 2020 sampai 2025, Indonesia mengeluarkan sekitar Rp6,77 triliun untuk 1,89 juta kasus kesehatan mental. Euforia baiknya besar, karena makin banyak orang yang memahami bahwa masalah mental itu nyata dan butuh penanganan.

Lantas apakah ini  bisa dikatakan kesadaran atau penyalahgunaan ?

Walau awareness (kesadaran) bagus, ada sisi gelapnya. Banyak Gen-z yang memakai mental health sebagai Tren Estetika atau alat untuk mendapatkan perhatian? Cerita sedih dijadikan konten viral sedangkan solusi nyata tidak dicari. Seolah-olah diagnose di internet sudah cukup, padahal kehidupan nyata jauh lebih kompleks dari sekedar caption atau playlist healing.

Ilustrasi Gen Z

Self Diagnosis : Penolong Atau Perangkap?

Banyaknya generasi sekarang bilang “Ah, aku anxiety aja” atau “Kayaknya aku bipolar ringan” hanya berdasarkan membaca artikel di internet atau menonton konten video di media sosial.

Self Diagnosis bisa jadi cara berlindung memvalidasi perasaan sendiri tanpa harus menghadapi stigma atau biaya berobat. Tapi problemnya di Gen Z, jika dijadikan kebiasaan bisa menggiring ke salah kaprah, overclaim, dan rasa puas diri bahwa “Aku sudah paham mental health” padahal nyata belum tentu.

Tapi tidak semua Generasi Z seperti sekarang menggunakan Mental Health untuk ajang pamer tapi untuk menjadi motivasi bagi sebagian. Mental Health seharusnya jadi ruang aman bukan hanya untuk sekedar konten media sosial atau hastag keren. Ini semestinya tentang akses ke bantuan professional, ruang untuk curhat yang nyata, edukasi yang jujur tentang gejala dan perawatan, bukan glamorisasi penderitaan.

Jalan Keluar dari Dilema Digital

Tren kesehatan mental Gen Z adalah bukti bahwa generasi ini ingin sembuh dan berani bersuara. Namun, untuk menjaga agar tren ini tetap konstruktif, perlu ada langkah penyeimbang:

Literasi Kesehatan Mental Kritis

Sekolah, kampus, dan keluarga harus secara aktif mengajarkan Gen Z untuk membedakan informasi edukasi (awareness) dari diagnosis klinis dan menekankan bahwa TikTok bukanlah terapis.

Akses Profesional yang Terjangkau

Pemerintah dan sektor kesehatan perlu merespons kesadaran tinggi Gen Z dengan menyediakan layanan psikologi dan psikiatri yang terjangkau, mudah diakses, dan tidak terbebani stigma.

Prioritas IRL (In Real Life)

Mendorong Gen Z untuk mencari koneksi dan dukungan tatap muka, serta membatasi screen time untuk mengurangi perbandingan sosial dan tekanan digital (FOMO).

Gen Z adalah agen perubahan dalam kesehatan mental. Mereka harus dibimbing untuk menggunakan kekuatan digital mereka untuk edukasi dan advokasi, bukan untuk diagnosis mandiri atau komodifikasi penderitaan. *

 

Pos terkait