Menatap Masa Depan Ekonomi Nasional: Optimalisasi Tol Laut dan Tantangan Logistik Maritim

Adi M Iqbal.

Oleh: Adi M Iqbal

(Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tridinanti Palembang)

SEBAGAI negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, posisi geografis Indonesia di persimpangan jalur perdagangan global merupakan anugerah strategis yang tiada dua. Laut bukanlah pemisah, melainkan urat nadi utama penghubung ekonomi nasional. Di sinilah sektor maritim, khususnya perhubungan laut memegang peran krusial sebagai jangkar utama dalam menyokong target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5% hingga 6% per tahun.

Transportasi laut menjadi sarana vital dalam mendistribusikan barang dan jasa antarpulau. Mayoritas kebutuhan pokok, komoditas industri, pertanian, hingga sumber daya alam bergerak melintasi jalur laut. Kehadiran pelabuhan yang aktif bukan sekadar tempat bersandarnya kapal, melainkan episentrum ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan sirkulasi kesejahteraan masyarakat lokal.

Selain mendukung distribusi logistik dalam negeri, sektor maritim juga memiliki potensi besar dalam perdagangan internasional. Posisi Indonesia yang berada di jalur perdagangan dunia memberikan peluang besar untuk menjadi pusat logistik dan pelayaran internasional. Jika pengelolaan pelabuhan dan sistem logistik dilakukan secara modern dan efisien, maka Indonesia dapat meningkatkan daya saing ekonomi di tingkat global.

Secara global, potensi ekonomi maritim Indonesia diperkirakan mencapai USD 1,33 triliun per tahun. Posisi kita yang berada di jalur chokepoint perdagangan dunia, seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, memberikan peluang emas bagi Indonesia untuk bertransformasi menjadi pusat logistik internasional.

Jika pengelolaan pelabuhan dan efisiensi birokrasi maritim dapat dimodernisasi, daya saing global Indonesia dipastikan akan melonjak tajam. Sebagai pembanding, merujuk data Logistics Performance Index (LPI) yang dirilis oleh Bank Dunia, efisiensi logistik Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara tetangga di ASEAN. Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pengelolaan manajemen maritim kita saat ini.

Namun, di balik besarnya potensi tersebut, realita di lapangan masih dihadapkan pada tantangan klasik yang sistemik. Biaya logistik nasional Indonesia masih berkisar di angka 14% hingga 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju yang rata-rata berhasil menekan biaya logistik di bawah 10%.

Kesenjangan fasilitas pelabuhan antara wilayah Barat (seperti Jawa dan Sumatera) dengan wilayah Timur Indonesia masih sangat mencolok. Akibatnya, disparitas harga barang pokok di wilayah pelosok masih kerap terjadi. Kendala keselamatan pelayaran, penegakan hukum di laut, serta belum optimalnya kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang menguasai manajemen maritim modern.

Di tingkat regional Sumatera Selatan sendiri, tantangan konektivitas maritim dan sungai juga menjadi sorotan. Optimalisasi Pelabuhan Tanjung Carat, misalnya, terus didorong untuk menjadi gerbang utama ekspor komoditas unggulan daerah seperti karet, sawit, dan batubara, guna mengurangi ketergantungan pada pelabuhan di luar provinsi.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah tidak boleh mengendurkan komitmennya dalam memperkuat program Tol Laut. Keberadaan Tol Laut terbukti mampu menurunkan harga barang ruji (pokok) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) hingga 10%–20%. Namun, program ini memerlukan manajemen operasional yang lebih transparan dan efisien agar muatan balik dari daerah ke kota dapat terisi optimal, sehingga tidak terjadi pemborosan bahan bakar kapal.

Langkah strategis yang harus diprioritaskan meliputi digitalisasi pelabuhan dengan mengintegrasikan seluruh sistem pelabuhan melalui Inaportnet untuk memangkas dwelling time (waktu bongkar muat).

Mengalihkan fokus pembangunan infrastruktur pelabuhan ke wilayah Indonesia Timur guna menciptakan keadilan ekonomi. Dan, menyiapkan talenta-talenta muda dengan keahlian manajemen maritim yang adaptif terhadap teknologi industri 4.0.

Kesimpulannya, sektor maritim merupakan salah satu kunci utama dalam membangun perekonomian Indonesia. Dengan pengelolaan perhubungan laut yang baik, Indonesia dapat memperkuat konektivitas nasional, meningkatkan perdagangan, dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia melalui optimalisasi sektor kelautan dan perhubungan laut. *

Pos terkait