Fenomena Paylater: Solusi Likuiditas atau Jebakan Konsumerisme Generasi Z?

Rika Wulandari.

DI era digitalisasi ekonomi saat ini, metode pembayaran Buy Now, Pay Later (BNPL) atau yang akrab disebut Paylater telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat, terutama Generasi Z. Dengan kemudahan akses yang ditawarkan hanya bermodal Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan klik dalam hitungan detik fitur ini berhasil menggeser dominasi kartu kredit konvensional. Namun, di balik kemudahannya, Paylater berdiri di garis tipis antara alat manajemen keuangan yang cerdas dan lubang hitam konsumerisme.

Dahulu, prinsip konsumsi yang sehat adalah “menabung untuk membeli”. Saat ini, paradigma tersebut bergeser menjadi “nikmati sekarang, bayar nanti”. Bagi mahasiswa atau pekerja muda Generasi Z yang mungkin belum memiliki akses ke perbankan formal (kartu kredit), Paylater hadir sebagai jembatan likuiditas. Fenomena ini diperkuat dengan integrasi Paylater di berbagai platform e-commerce, layanan transportasi online, hingga pemesanan tiket perjalanan.

Terminologi buy now pay later santer terdengar tidak hanya di produk finansial berbasis digital saja, bank-bank besar-pun bahkan sekarang menjadikan perubahan perilaku konsumen tersebut menjadi sebuah produk yang bisa ditawarkan terhadap konsumen mereka.

Buy Now Pay Later adalah sebuah layanan pembayaran yang dilakukan dan memungkinkan konsumen untuk membeli barang atau jasa dan membayarnya di kemudian hari

Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan bahwa adanya peningkatan jumlah buy now pay later sebanyak 33.64% yoy dengan nominal 6,81 Triliun. Hal ini menandakan bahwa pelayanan buy now pay later menjadi sebuah solusi bagi masyarakat Indonesia dalam melakukan transaksi. Menurut Databoks, tercatat 43.9% pengguna layanan buy now pay later berasal dari generasi milenial yang berusia 26 – 35 dan 26.5% berasal dari kalangan Gen Z yang berusia 18-25 tahun.

Penggunaan buy now pay later bisa menjadi sebuah solusi bagi konsumen dalam melakukan transaksi, namun perlu adanya kebijaksanaan dalam penggunaannya.

Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan layanan pinjaman daring (pindar) dan paylater untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka.

Hasil survei terbaru dari Jakpat pada paruh kedua 2024 mengungkapkan bahwa dari 2.133 responden yang terdiri dari Gen Z (36%), Milenial (42%), dan Generasi X (22%), mayoritas Gen Z menggunakan layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology atau fintech) untuk kebutuhan mendesak dan konsumtif.

Menurut survei tersebut, sebanyak 55% Gen Z pengguna layanan paylater memanfaatkannya untuk kebutuhan mendesak, diikuti oleh kebutuhan sehari-hari (32%) dan membayar tagihan (26%). Pola serupa juga terlihat dalam penggunaan pindar, di mana 62% Gen Z menggunakan pinjaman daring untuk kebutuhan mendesak, 42% untuk kebutuhan sehari-hari, dan 35% untuk membayar tagihan.

Survei terpisah yang dilakukan oleh Inventure dalam riset Indonesia Market Outlook 2025 pada September 2024 juga mengungkapkan bahwa 34% Gen Z pernah mengakses pinjaman daring dalam enam bulan terakhir. Artinya, sekitar 1 dari 3 Gen Z telah memanfaatkan pindar, dengan alasan utama adalah untuk membeli barang konsumsi, seperti gadget premium.

Ilustrasi buy pay later.

Jebakan Konsumerisme dan Efek Psikologis

​Masalah muncul ketika kemudahan ini bertemu dengan rendahnya literasi keuangan. Ada beberapa dampak negatif yang sering kali tidak disadari oleh pengguna Gen Z.

Paylater mengurangi “rasa sakit” saat mengeluarkan uang (pain of paying). Karena tidak ada uang tunai yang berpindah tangan secara fisik atau saldo tabungan yang langsung berkurang, pengguna cenderung meremehkan total hutang mereka.

Meskipun cicilan terlihat kecil, bunga harian atau biaya admin yang terakumulasi sering kali lebih tinggi daripada suku bunga pinjaman bank konvensional. Denda keterlambatan bisa menjadi bola salju yang merusak stabilitas keuangan.

Banyak anak muda tidak sadar bahwa gagal bayar Paylater akan tercatat di SLIK OJK. Hal ini bisa menutup pintu mereka untuk mendapatkan beasiswa, melamar pekerjaan di sektor keuangan, atau mengajukan kredit usaha di masa depan.

Paylater pada dasarnya hanyalah sebuah alat. Apakah ia menjadi solusi likuiditas atau jebakan konsumerisme, sepenuhnya bergantung pada disiplin penggunanya. Generasi Z perlu memahami bahwa setiap klik “Beli” dengan Paylater adalah janji yang membebani pendapatan mereka di masa depan.

​Manajemen keuangan yang sehat bukanlah tentang seberapa banyak fasilitas kredit yang kita miliki, melainkan seberapa mampu kita mengendalikan keinginan di tengah godaan kemudahan akses. Tanpa literasi yang kuat, Paylater bukan lagi jembatan menuju kesejahteraan, melainkan jeratan yang mengadai masa depan finansial.

Penulis:

Rika Wulandari
Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.

Pos terkait