Dilema APBN 2026: Menjaga Daya Beli di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Muhammad Reza Mahendra.

KETEGANGAN geopolitik di Selat Hormuz bukan sekadar urusan militer bagi Indonesia, ini adalah guncangan ekonomi yang langsung menghantam struktur belanja negara. Di saat negara-negara Asia mulai melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) akibat melambungnya harga minyak mentah dunia, Indonesia memilih jalan yang berisiko namun populis, mempertahankan harga subsidi.

Pemerintah memastikan bahwa kebutuhan Indonesia terhadap pasokan energi dari kawasan rawan relatif terbatas. Impor dari kawasan Timur Tengah hanya berupa minyak mentah (crude oil) dengan porsi sekitar 20–25 persen, sementara BBM jadi tidak diimpor dari kawasan tersebut.

Untuk menjaga ketahanan energi, pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan dari berbagai negara seperti Angola, Nigeria, hingga Amerika Serikat. Selain itu, pasokan LPG nasional juga tidak bergantung pada jalur distribusi di Selat Hormuz, melainkan berasal dari negara-negara lain seperti Australia.

Di sisi lain, pemerintah juga terus melakukan komunikasi intensif terkait distribusi energi, termasuk pergerakan kapal di Selat Hormuz, guna memastikan tidak ada gangguan terhadap pasokan dalam negeri.

Dengan langkah antisipatif, diversifikasi pasokan, serta koordinasi lintas sektor yang kuat, pemerintah memastikan bahwa kebutuhan energi nasional akan tetap terjaga serta menjadi fondasi utama stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Langkah yang diambil pemerintah cukup berani, laju kenaikan harga BBM dapat ditahan dengan memanfaatkan program subsidi. Menghadapi kasus ini, pemerintah juga melakukan upaya efisiensi energi dengan menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan swasta.

Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi adalah upaya menjaga daya beli masyarakat dan menahan laju inflasi. Jika harga BBM dilepas ke pasar, efek domino pada biaya logistik dan harga pangan akan memicu inflasi tinggi yang dapat melumpuhkan pertumbuhan ekonomi nasional.

​Namun, kebijakan ini memiliki harga yang mahal. Dengan harga minyak mentah dunia yang berfluktuasi tajam, beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 dipastikan membengkak. Pemerintah kini harus bekerja ekstra keras menjaga defisit anggaran tetap di bawah ambang batas aman.

Pemerintah menyadari bahwa subsidi BBM adalah solusi jangka pendek yang tidak berkelanjutan secara fiskal. Oleh karena itu, transisi energi ekonomi global ditempatkan sebagai strategi transformasi ekonomi. Mengalihkan ketergantungan dari energi fosil yang volatil ke energi alternatif bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan langkah penyelamatan anggaran negara di masa depan.

Ilustrasi pengisian BBM.

Sampai Kapan Stok BBM Indonesia Bisa Bertahan?

Gejolak geopolitik global di awal tahun 2026 telah menempatkan rantai pasok energi dunia dalam posisi yang sangat rentan. Perang yang mengganggu jalur distribusi utama di Timur Tengah menyebabkan harga minyak mentah dunia berfluktuasi tajam, memicu kekhawatiran masyarakat akan ketahanan energi nasional.

Bagi Indonesia, pertanyaan utamanya bukan lagi soal harga, melainkan ketahanan. Seberapa lama stok BBM kita benar-benar bisa bertahan jika krisis ini memburuk?

Berdasarkan laporan terbaru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Januari 2025 yang dievaluasi kembali pada kuartal pertama 2026, total cadangan minyak bumi dan kondensat Indonesia tercatat sebesar 4,4 miliar barel.
Namun, angka tersebut perlu dibedah lebih dalam untuk memahami realita sebenarnya:

Cadangan Terbukti (Proven Reserves): hanya sekitar 2,3 miliar barel. Sementara Cadangan Mungkin & Harapan: sisanya sebesar 2,1 miliar barel masih memerlukan eksplorasi dan teknologi lebih lanjut untuk bisa diproduksi secara komersial.

Dengan rata-rata produksi (lifting) minyak nasional yang saat ini berada di kisaran 580.000 hingga 610.000 barel per hari, tanpa penemuan lapangan raksasa baru, cadangan minyak kita diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 9 hingga 12 tahun ke depan.

Di tengah situasi krisis akibat perang, pemerintah dan Pertamina telah memperketat pengawasan stok operasional. Data per Maret 2026 menunjukkan bahwa ketahanan stok BBM nasional berada pada level yang relatif aman untuk jangka pendek. Untuk memperpanjang napas ketahanan energi, Indonesia sedang menjalankan beberapa langkah strategis yang konsisten.

Optimasi penggunaan kelapa sawit sebagai campuran bahan bakar untuk mengurangi ketergantungan pada solar impor. Pemerintah memberikan insentif besar bagi kontraktor migas untuk mencari sumber cadangan baru di wilayah Timur Indonesia yang memiliki potensi besar namun sulit diakses secara geografis.

Pembangunan infrastruktur penyimpanan cadangan strategis nasional yang ditargetkan mampu menyimpan stok untuk kebutuhan lebih dari 30 hari secara permanen. Indonesia saat ini masih berada dalam zona aman secara operasional dengan stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan.

Namun, ketergantungan pada pasar global di tengah situasi perang adalah pengingat bahwa ketahanan energi tidak bisa dianggap remeh. Langkah penghematan konsumsi BBM secara mandiri dan dukungan terhadap transisi energi bukan lagi sekadar tren lingkungan, melainkan upaya kolektif untuk menjaga kedaulatan negara dari guncangan krisis energi dunia. (Penulis: Muhammad Reza Mahendra/Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).

Pos terkait