Di Bawah Langit Keadilan, Sumpah yang Mengikat Seumur Hidup

Chairul S Matdiah foto bersama istri dan kedua orang tua usai pelantikan menjadi pengacara.

Palembang, Gajahmatinews.com

​Pagi itu, tahun 1995, langit di atas gedung Pengadilan Tinggi (PT) Palembang, Jalan Jenderal Sudirman KM 3,5 Palembang, tampak begitu luas, seolah bersiap menjadi saksi bisu atas sebuah janji yang akan mengikat seumur hidup.

Di dalam ruangan yang hening dan bangunan serba putih bergaya klasik, deru napas terasa lebih berat dari biasanya. Di pundak seorang pria bernama Chairul S Matdiah yang memakai jas atau biasa disebut toga hitam itu, bukan hanya kain yang tersampir, melainkan harapan ribuan orang yang mencari kebenaran.

​Ketika tangan kanan diangkat dan kitab suci Alquran diletakkan di atas kepala, suasana mendadak senyap. Dunia seakan berhenti berputar. Di hadapan majelis hakim dan di bawah “Langit Keadilan” yang tak memihak, kata-kata sumpah itu meluncur bukan sekadar hafalan, melainkan sebuah ikrar yang menembus atap ruang sidang hingga ke Arsy Tuhan.

​Sumpah itu adalah garis demarkasi. Sebelum kata-kata itu diucapkan, ia adalah seorang manusia bebas. Namun, setelah amin terakhir berkumandang, ia adalah seorang pengacara. Ia bukan lagi milik dirinya sendiri, melainkan milik keadilan. Toga hitam yang ia kenakan kini menjadi perisai sekaligus pengingat bahwa hitam tidak akan pernah berkompromi dengan noda sekecil apa pun.

​Di bawah langit yang sama, janji itu diuji. Apakah ia akan tetap berdiri tegak saat badai godaan datang? Ataukah ia akan tunduk pada kekuasaan dan melupakan sumpah yang pernah digetarkan di bawah sakralnya langit-langit pengadilan?

“Demi Allah saya bersumpah…” keluar dari lisannya, ada rasa haru yang membuncah. Ia teringat wajah-wajah rakyat kecil yang mencari secercah harapan. Ia menyadari bahwa di balik toga hitam ini, ada hati yang harus tetap lembut namun mental yang harus sekeras baja.

​Bagi Chairul S Matdiah, momen ini adalah titik nol. Sebuah kelahiran kembali di mana nurani ditempatkan di atas segalanya. Sumpah itu bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah kontrak mati untuk tidak pernah membiarkan kebenaran terbeli.

​”Saat saya mengucap sumpah itu, saya merasa langit seolah merendah untuk mendengarkan. Ada getaran yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Itulah momen di mana saya sadar bahwa menjadi pengacara bukan tentang mencari kekayaan, tapi tentang menjaga Marwah. Jika kita mengkhianati sumpah kita, maka runtuhlah langit keadilan yang kita jaga,” ujar Chairul.

Chairul sadar, di tangannya, sehelai toga hitam terasa lebih berat dari berat kain yang sebenarnya. Ia tahu, ketika jubah itu menyentuh bahunya, hidupnya bukan lagi milik pribadinya saja.

​Ada getaran halus di ujung jemari saat ia berdiri tegak. Di atas kepalanya, bayangan “Langit Keadilan” seolah merunduk, mendengarkan setiap detak jantung yang berpacu. Di depan sana, kitab suci telah bersiap menjadi saksi. Momen itu bukan sekadar seremoni hukum, itu adalah sebuah kelahiran kembali.

​Menjadi pengacara dalam narasi ini bukan tentang kemenangan di meja hijau atau kemewahan kantor hukum. Ini tentang seorang manusia yang berjanji kepada Tuhan dan sesamanya untuk menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya tercekik oleh ketidakadilan. Sumpah itu adalah janji untuk tetap berjalan lurus di jalan yang seringkali berliku dan penuh godaan.

​Dalam sebuah momen refleksi yang mendalam, Chairul mengenang kembali apa yang berkecamuk di pikirannya saat tangan kanannya terangkat ke langit.

​”Saat saya berdiri di sana, di bawah sumpah itu, saya melihat bayangan orang-orang kecil yang tidak punya kuasa. Saya berbisik dalam hati: ‘Ya Tuhan, jangan biarkan toga ini menjadi sombong. Jangan biarkan tangan ini menerima apa yang bukan haknya,” katanya.

“Sumpah itu membuat saya merasa sangat kecil di hadapan Sang Maha Adil. Saya sadar, menjadi pengacara itu bukan gagah-gagahan dengan gelar, tapi tentang seberapa berani kita tetap jujur saat semua orang di sekitar kita memilih untuk diam atau berkhianat. Bagi saya, sumpah adalah ‘titik mati’, sekali diucapkan, tidak ada jalan kembali selain menjadi pembela kebenaran,” tambah Chairul.

​”Warna hitam ini adalah simbol kegelapan yang harus kita terangi, sekaligus pengingat bahwa kita semua sama di mata hukum. Saat bersumpah, saya merasa jubah ini seperti kulit kedua saya. Ia akan kotor jika nurani saya kotor, dan ia akan tetap bermartabat jika integritas saya terjaga. Itulah marwah yang sesungguhnya,” katanya lagi. **

Pos terkait