Palembang, Gajahmatinews.com
Perjalanan panjang seorang praktisi hukum tidak dimulai saat ia memenangkan perkara besar di pengadilan, melainkan pada momen sakral di mana sumpah diucapkan di bawah kitab suci. Hal inilah yang menjadi inti sari dari Bab 3: Sumpah di Bawah Langit Keadilan, bagian dari memoar inspiratif buku kedua Chairul S Matdiah berjudul “Di Balik Toga Hitam”.
Dalam bab terbarunya ini, pembaca diajak menyelami lorong waktu saat Chairul pertama kali mengukuhkan dirinya sebagai pelayan keadilan. Bab ini bukan sekadar catatan administratif tentang pelantikan, melainkan sebuah refleksi batin mengenai beban moral yang melekat pada setiap helai benang toga hitam yang ia kenakan.
Melalui narasi yang emosional dan lugas, Bab 3 menggambarkan suasana ruang sidang yang hening saat sumpah jabatan dikumandangkan. Chairul menekankan bahwa “Langit Keadilan” adalah saksi bisu yang tidak akan pernah lupa akan janji seorang advokat untuk membela yang lemah tanpa memandang latar belakang.
Dalam bab ini akan dibahas tentang
transformasi identitas dari seorang sarjana hukum menjadi benteng terakhir bagi pencari keadilan. Kemudian, beban moral toga hitam, yaknk mengapa warna hitam dipilih sebagai simbol kewibawaan dan kesederhanaan. Selanjutnya, tentang
integritas tanpa batas menghadapi godaan duniawi yang mulai muncul sejak hari pertama menyandang gelar Advokat.
Saat diwawancarai mengenai esensi dari Bab 3 ini, Chairul S Matdiah memberikan pandangan mendalamnya bagi generasi muda hukum di Indonesia.
”Bagi saya, sumpah itu bukan sekadar formalitas di depan hakim tinggi atau rohaniwan. Itu adalah kontrak mati antara kita, Tuhan, dan kemanusiaan,” ujar Chairul.
Di Bab 3 ini, Chairul ingin pembaca merasakan bahwa ketika tangan diangkat untuk bersumpah, saat itulah ego harus luruh. Toga hitam yang dipakai adalah pengingat bahwa di dalam ruang sidang, tidak ada yang lebih tinggi selain kebenaran.
”Banyak yang bisa menjadi pengacara, tapi sedikit yang mampu menjaga ‘Marwah’ atau kehormatan di bawah tekanan. Saya berharap bab ini menjadi kompas bagi para advokat muda agar tidak tersesat di rimba hukum yang sering kali gelap,” katanya.
Buku ini merupakan catatan perjalanan hidup dan karier Chairul S Matdiah, yang mengupas tuntas realita dunia hukum di Indonesia, mulai dari peluh di lapangan hingga dinamika di balik meja hijau. *







