Menjaga “Otot” Domestik di Tengah Badai Global: Refleksi Ekonomi Indonesia

Jacki Pratama Sumantri.

PEREKONOMIAN Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial. Di satu sisi, indikator makroekonomi memamerkan resiliensi yang impresif. Pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5% adalah capaian yang melampaui ekspektasi, terutama saat banyak negara maju terjerembap dalam stagnasi atau ancaman resesi. Namun, jika menelisik lebih dalam ke “dapur” rumah tangga, terdapat riak yang mulai membesar, krisis daya beli yang nyata.

Harus diakui bahwa manajemen fiskal dan moneter Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup disiplin. Kebijakan hilirisasi komoditas telah mulai memberikan buah berupa peningkatan nilai tambah ekspor, sementara inflasi relatif terjaga dibandingkan negara-negara Barat. Ketegasan pemerintah dalam menjaga defisit anggaran di bawah 3% (kecuali saat pandemi) menjadi sinyal positif bagi investor bahwa “nakhoda” ekonomi kita cukup konservatif dan hati-hati.

Namun, narasi pertumbuhan 5% seringkali terasa “berjarak” dengan apa yang dirasakan masyarakat kelas menengah. Fenomena penurunan jumlah kelas menengah dan stagnansi upah riil adalah tantangan nyata. Inflasi pangan, meskipun terkendali di atas kertas, tetap menjadi beban berat bagi masyarakat bawah. Di sinilah letak paradoksnya, ekonomi tumbuh, tetapi distribusinya belum merata.

​Ada beberapa poin krusial yang harus menjadi perhatian pemerintah dan pelaku ekonomi ke depan. Pertama, penguatan sektor manufaktur. Kita tidak bisa selamanya bergantung pada harga komoditas global. Reindustrialisasi adalah harga mati agar tersedia lapangan kerja yang berkualitas dengan upah yang lebih baik.

​Perlindungan daya beli, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok adalah cara paling efektif untuk menjaga konsumsi rumah tangga, yang merupakan mesin utama penggerak PDB kita (sekitar 50-60%).

​Kualitas sumber daya manusia (SDM). Investasi pada pendidikan dan kesehatan bukan sekadar pengeluaran sosial, melainkan investasi modal manusia (human capital) agar tenaga kerja kita siap menghadapi era digitalisasi dan otomasi.

​Kesimpulannya, masa depan ekonomi Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa besar sumber daya alam yang kita keruk dari bumi, melainkan oleh seberapa kuat kita menjaga daya beli rakyat dan seberapa cepat kita bertransformasi menjadi negara industri. Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh lebih tinggi dari 5%, namun itu hanya bisa tercapai jika pertumbuhan tersebut bersifat inklusif pertumbuhan yang tidak hanya mempercantik laporan statistik, tapi juga mempertebal dompet rakyat jelata.

Pada akhirnya, ketangguhan ekonomi Indonesia bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan hasil sinergi antara kebijakan yang berpihak pada rakyat dan ketahanan daya beli domestik yang harus terus dijaga demi mewujudkan kesejahteraan yang merata.

​Kita punya modal yang cukup untuk optimis, namun optimisme itu harus dibarengi dengan kewaspadaan yang tinggi terhadap dinamika global dan kepekaan terhadap kondisi domestik. (Penulis: Jacki Pratama Sumantri/Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen (MM), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang).

Pos terkait