Palembang, Gajahmatinews.com
Dalam setiap babak kehidupan, selalu ada satu benda yang menjadi penanda waktu. Bagi seorang pengacara, penanda itu bukanlah jam tangan mahal atau setelan jas rancangan desainer, melainkan odometer (alat di dasbor kendaraan) sebuah Suzuki Katana berwarna merah yang terus berputar, mencatat setiap jengkal langkah karier yang ia tapaki hari demi hari.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar benderang di ufuk timur, bunyi mesin Katana itu sudah memecah kesunyian garasi. Bagi Chairul S Matdiah, deru mesin itu adalah “alarm” perjuangan. Di masa awal karier, mobil ini adalah kantor kedua. Di balik kemudinya, ia belajar menghafal pasal-pasal, melatih argumentasi di depan kaca spion, hingga menyantap sarapan cepat sebelum masuk ke ruang sidang.
Hari-hari pertama dimulai dengan kasus-kasus kecil. Katana itu dengan setia menapaki jalanan sempit pemukiman padat, tempat di mana klien-klien pertamanya mencari perlindungan hukum.
Seiring bergantinya kalender, medan yang ditempuh Katana ini semakin berat, selaras dengan kompleksitas kasus yang ditangani. Ia bukan lagi sekadar mobil jemputan, melainkan saksi bisu pendewasaan seorang advokat.
“Katana mengajarkan saya bahwa karier hukum itu maraton, bukan sprint. Kita harus menapakinya hari demi hari, konsisten, dan tidak boleh memaksakan mesin jika tidak ingin overheat,” ujar Chairul S Matdiah saat mengenang perjalanan panjangnya.
Saat menjalani awal karier sebagai pengacara, Chairul tahu betul jalan ini tidak gampang. Butuh kerja keras dan konsitensi untuk menapak karier tersebut agar bisa berhasil. Suzuki Katana menjadi tunggangan yang setia saat ia mulai dilirik dan diperhitungkan berbagai kalangan.
“Mobil itu saya beli tahun 1997, harganya Rp30 juta. Saya beli dari hasil menyisihkan bayaran sebagai pengacara,” katanya.
Suzuki Katana merah itu, hampir saban hari melintasi Lorong AA, Kelurahan 2 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) 1, salah satu kawasan padat penduduk yang menjadi tempat tinggalnya.
Lazimnya bertetangga, sesekali Chairul dengan seragam lengkap dinasnya, setelan jas dan dasi menurunkan kaca mobil untuk saling bertegur sapa dengan para tetangga yang mulai beraktivitas di pagi hari. Sekedar hanya untuk bertanya kabar. Tak ada kesan sombong apalagi tinggi hati setiap Chairul berpapasan dengan tetangga tersebut.
Mobil ini membawa Chairul menapaki kariernya hari demi hari. Tidak hanya dalam kota Palembang, namun juga sampai ke daerah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel).
Maklum saat itu banyak pihak yang ingin memakai jasa Chairul dalam menangani perkaranya. Alhasil Chairul kebajiran order. Klien tidak hanya berasal dari Palembang bahkan juga berasal dari Ibu Kota Jakarta.
Sebagai tunggangan sehari-hari mobil ini sepertinya tahu kondisi dan kebutuhan tinggi pemiliknya, tidak pernah rewel apalagi rusak. Kendaraan ini sangat membantu Chairul saat menjalankan aktivitasnya.
“Mobil ini tidak punya AC yang sedingin mobil sekarang, suspensinya pun keras. Tapi dia tidak pernah mogok saat saya harus mengejar jadwal sidang di pengadilan,” ujar Chairul.
Kini, setelah ratusan kasus dimenangkan dan ribuan argumen disampaikan, Suzuki Katana itu telah menjadi ikon di lingkungan pengadilan setempat. Orang-orang tidak lagi melihatnya sebagai mobil tua, melainkan sebagai simbol integritas.
Setiap goresan di pintunya adalah catatan hari-hari sulit yang berhasil dilewati. Setiap bunyi decit remnya adalah pengingat akan ketegangan sesaat sebelum vonis hakim dijatuhkan. Bagi Chairul, menapaki karier bersama Katana ini adalah tentang menghargai proses, bahwa keberhasilan yang sejati bukanlah tentang seberapa cepat kita sampai, tapi tentang seberapa tangguh kita bertahan di jalur yang benar.
Bagi banyak orang, ketika kesuksesan finansial datang, barang-barang lama biasanya akan segera dilego demi gaya hidup yang lebih baru. Namun, aturan itu tidak berlaku bagi Chairul. Berkali-kali kolektor mobil klasik maupun rekan sejawat menawar Suzuki Katananya dengan harga yang jauh di atas nilai pasar, namun jawabannya selalu sama, sebuah gelengan kepala yang mantap.
Chairul tidak berniat menjual mobilnya itu, meski dia mampu membeli mobil yang lebih mewah. Bahkan sampai kini mobil yang menjadi saksi bisu keberhasilan Chairul tersebut masih terawat dengan baik.
“Biarlah dak usah dijual. Tarok bae di rumah untuk kenangan,” kata Chairul tersenyum bangga.
“Ada nilai yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh angka di atas cek,” tegasnya setiap kali tawaran itu datang.
“Menjual mobil ini sama saja dengan menjual ingatan saya tentang bagaimana rasanya berjuang. Dia tidak akan pernah dijual,” kata Chairul lagi.
Bagi Chairul, Katana itu telah melampaui statusnya sebagai aset materi. Mobil itu adalah “sertifikat” perjuangannya yang paling jujur. Ia bertekad agar mobil itu tetap ada di garasinya, mungkin suatu saat nanti akan ia ceritakan kepada cucu-cucunya bahwa dari balik kemudi mobil kotak inilah, satu demi satu keadilan berhasil ia jemput dan karier besarnya dibangun.
Hingga kini, Katana tersebut tetap dalam kondisi prima dan tersimpan rapi di dalam garasi rumahnya. Mesinnya dirawat dengan teliti, dan interiornya dipertahankan seorisinal mungkin. Bagi Chairul, setiap goresan di bodi mobil itu punya cerita tentang kemenangan di pengadilan, tentang malam-malam panjang riset kasus di dalam kabin, hingga tentang air mata kegagalan.
Katana itu adalah pengingat harian baginya. Setiap kali ia duduk di kursi kemudi yang sempit itu, ia kembali merasakan semangat masa mudanya, semangat saat ia pertama kali bersumpah untuk menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.
Kisah Chairul dan Katananya adalah pengingat bahwa dalam mengejar kesuksesan, kita butuh “jangkar” untuk tetap membumi. Katana itu bukan lagi soal harga jual, melainkan soal nilai sejarah yang tak terukur oleh materi. (ferly marison).







