Luncurkan Buku Kedua “Di Balik Toga Hitam”, Ungkap Sisi Personal Penegakan Hukum dan Politik

Chairul S Matdiah bersama Alex Noerdin.

Palembang, Gajahmatinews.com

Memegang teguh prinsip di tengah pusaran politik bukanlah perkara mudah. Hal inilah yang coba dituangkan oleh Chairul S Matdiah dalam buku biografi terbarunya, “Di Balik Toga Hitam”. Lewat untaian narasi yang personal, ia mengisahkan bagaimana nurani bekerja di bawah tekanan profesi mulai dari keberanian menolak “uang ketok palu” hingga komitmen menjaga marwah jabatan sebagai titipan Tuhan.

Dalam karya terbaru ini, Chairul membedah sisi personal perjalanannya dalam menjaga integritas, mulai dari rekam jejaknya sebagai pembela keadilan sejak tahun 2000-an hingga pengabdiannya di kursi legislatif.

Melalui buku ini, Chairul ingin berbagi cerita tentang bagaimana “Toga Hitam” yang dipakai sejak tahun 2000-an sebagai advokat, telah membentuk tulang punggung moral saat melangkah ke gedung parlemen.

Dalam lembaran buku ini, Chairul membuka kembali catatan-catatan yang mungkin dianggap “aneh” atau tidak lazim bagi sebagian orang di dunia politik. Chairul menceritakan bagaimana saya dengan tegas menutup rapat pintu bagi apa yang disebut sebagai “uang ketok palu”.

Bagi Chairul, kehormatan tidak bisa dibeli dengan rupiah hasil gratifikasi. Saya teringat saat menyampaikan langsung kepada Bapak Alex Noerdin (Gubernur Sumsel saat itu) bahwa selama di Badan Anggaran, Chairul tidak pernah menyentuh uang tersebut, sebuah prinsip yang saya pegang teguh hingga akhir.

Begitu pula dengan hak rumah dinas. Saat anggaran renovasi dan tawaran fee kontraktor sebesar 15-20% datang menghampiri, Chairul memilih untuk bertahan dengan kondisi apa adanya selama lima tahun. Mengapa? Karena Chairul percaya bahwa perabot mewah yang didapat dari indikasi suap hanya akan mengotori ketenangan tidur keluarga.

Buku ini juga merupakan penghormatan saya terhadap profesi advokat. Pengalaman menangani berbagai kasus besar mulai dari pidana berat hingga sengketa korporasi telah mengajarkan bahwa hukum harus dibela dengan nyali. Jika dulu Chairul harus membawa senjata api demi keamanan saat menghadapi lawan yang keras, kini di dunia politik, senjatanya adalah integritas.

Chairul ingin buku ini menjadi saksi bahwa seorang politisi bisa tetap bersih di tengah lingkungan yang keruh. Chairul berharap generasi muda, para penegak hukum, dan rekan-rekan sejawat melihat bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang bisa kita pilih setiap hari.

Chairul berharap setiap bab dalam buku ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang ingin menjaga marwah dan martabat di bawah naungan kebenaran. Semoga buku ini menjadi amal jariyah dan memberikan manfaat bagi kemajuan penegakan hukum di Tanah Air tercinta. *

Pos terkait