Palembang, Gajahmatinews.com
Aksi berbahaya pelemparan batu ke kendaraan yang melintas di ruas Tol Prabumulih-Indralaya kembali meresahkan pengguna jalan. Menanggapi fenomena ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Selatan (DPRD Sumsel) mendorong langkah preventif melalui edukasi intensif kepada masyarakat, khususnya anak-anak di sekitar area jalan tol.
Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel David Hadrianto Aljufri menilai peristiwa tersebut tidak bisa dipandang sebagai kenakalan remaja semata. Ia menegaskan, tindakan itu sangat berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa pengguna jalan tol.
“Ini bukan sekadar iseng. Pelemparan batu bisa berakibat fatal dan harus menjadi perhatian semua pihak,” ujar David, Minggu (18/1/2026).
Berdasarkan informasi yang diterimanya, para pelaku masih berusia belasan tahun. Menurut David, pada usia tersebut anak-anak seharusnya fokus pada pendidikan dan pembentukan karakter, bukan melakukan perbuatan yang membahayakan orang lain.
Politisi Partai Golkar ini mengapresiasi langkah cepat pengelola tol dan kepolisian yang telah mengamankan pelaku serta memfasilitasi mediasi dengan korban. Namun, ia menegaskan penanganan tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum formal.
“Pendekatan edukatif jauh lebih penting. Anak-anak ini sering tidak memahami risiko dari perbuatan mereka. Mereka melakukannya karena iseng, tanpa menyadari dampaknya,” katanya.
David mendorong kerja sama lintas sektor, mulai dari pengelola tol, kepolisian, hingga sekolah-sekolah di sekitar jalur tol. Ia juga mengusulkan agar sanksi yang diberikan bersifat mendidik, seperti sanksi sosial, bukan semata hukuman pidana.
“Bisa diarahkan ke kegiatan sosial, membersihkan lingkungan, atau program pembinaan di sekolah. Tujuannya menanamkan tanggung jawab dan memberi efek jera,” katanya.
Selain itu, David menekankan peran aktif pengelola tol dalam meningkatkan pengamanan di titik-titik rawan. Menurutnya, beban pengawasan tidak boleh hanya ditumpukan kepada kepolisian.
“Pengelola tol harus rutin patroli, terutama di lokasi yang sering dijadikan tempat berkumpul anak-anak. Pengamanan harus tepat sasaran,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kasus serupa pernah terjadi di ruas Tol Kayuagung–Palembang dan kini jarang terulang berkat pengawasan dan edukasi yang konsisten. Hal ini, kata David, membuktikan pencegahan bisa efektif jika dilakukan berkelanjutan.
“Edukasi tidak boleh sporadis. Semua pihak harus terlibat, termasuk masyarakat dan orang tua,” katanya.
David juga menyoroti dampak psikologis aksi tersebut yang menimbulkan rasa takut dan keresahan di kalangan pengguna jalan. Ia menegaskan, pencegahan harus dilakukan secara terpadu.
“Fokus utama adalah membentuk karakter anak. Mereka harus paham konsekuensi perbuatannya. Kalau itu tertanam, perilaku berbahaya seperti ini bisa ditekan,” katanya. (hms/ADV).






