Palembang, Gajahmatinews.com
Sebuah kisah lama kembali bersemi dalam balutan nada. Bukan sekadar deretan lirik, namun sebuah narasi tentang jatuh bangunnya seorang anak manusia yang merajut asa dari kampung sunyi hingga ke balairung kota.
Lagu keempat Chairul S Matdiah, yang diberi tajuk “Kuat Karena Doa”, hadir layaknya sebuah memoar musikal yang menggetarkan hati. “Kuat Karena Doa” resmi diperkenalkan sebagai sebuah refleksi spiritual atas perjalanan hidup, perjuangan melawan sakit, dan dedikasi tanpa henti bagi masyarakat Bumi Sriwijaya.
Mendengarkan bait-bait awal lagu ini, kita seolah diajak menonton film pendek tentang perjalanan hidup Chairul. Dimulai dari langkah pemuda yang membawa sejuta cita menuju kursi pembela keadilan, hingga tiba pada sebuah titik balik yang memilukan.
Liriknya tak ragu memotret kerapuhan. Saat raga yang tadinya perkasa harus bertekuk lutut di hadapan ujian kesehatan. Penyakit ginjal dan jantung yang menguji ketabahan. Di sinilah letak kekuatan lagu ini. Ia tidak menjual kesempurnaan, melainkan kejujuran akan rasa sakit.
Bagian paling menyentuh dari lagu ini menggambarkan masa-masa sulit saat Chairul harus berjuang melawan gangguan kesehatan pada ginjal dan jantungnya. Di tengah raga yang merapuh, lagu ini menekankan bahwa bukan obat semata yang membuatnya bertahan, melainkan zikir yang tak terputus dan kekuatan doa.
Dukungan keluarga serta sahabat digambarkan sebagai “pilar penyangga” yang mengalirkan energi baru, memungkinkan sosok Chairul untuk bangkit kembali dari keterpurukan.
Saat dimintai keterangan mengenai peluncuran lagu terbarunya ini, Chairul S Matdiah mengungkapkan bahwa karya ini adalah bentuk rasa syukurnya kepada Sang Pencipta.
”Lagu ini adalah potret jujur dari fase terendah dalam hidup saya. Saya ingin berbagi pesan kepada siapa pun yang sedang diuji dengan penyakit atau kegagalan, bahwa selama kita memiliki iman dan doa, tidak ada badai yang tidak bisa dilewati. Nafas yang tersisa ini saya wakafkan untuk terus berbagi, baik melalui kebijakan maupun tindakan nyata di lapangan,” ujar Chairul.
”Lagu ini adalah saksi bahwa saat harapan hampir padam di kesunyian malam, tangan-tangan tulus dari keluarga dan sahabatlah yang menjadi pilar penyangga,” tambahnya dengan nada rendah penuh syukur.
Bagi Chairul, setiap nafas yang tersisa kini bukan lagi soal ambisi pribadi, melainkan ruang untuk berbagi. Hal ini terpancar jelas dalam lirik yang menyebutkan “nasi bungkus di jalanan”—sebuah potret nyata pengabdiannya yang menyentuh hati nurani rakyat kecil secara langsung, tanpa sekat jabatan.
Makna mendalam dari lagu ini terletak pada transformasi seorang pemimpin. Jika banyak orang mengejar jabatan untuk kekuasaan, lagu ini menegaskan bahwa bagi Chairul, pengabdian adalah tentang menjadi pelita terang di tengah kegelapan.
Chairul merefleksikan karya ini sebagai sebuah janji diri.
“Saya ingin orang yang mendengar lagu ini merasa bahwa mereka tidak sendirian saat diuji. Saya pernah berada di titik itu, merasa rapuh, namun saya membuktikan bahwa doa memiliki kekuatan untuk memutar roda nasib. Lagu ini adalah janji saya untuk terus melangkah teguh untuk rakyat selama nafas masih berhembus,” katanya.
”Kuat Karena Doa” kini bukan hanya milik Chairul S Matdiah, melainkan milik setiap jiwa yang tengah berjuang mencari kekuatan di tengah badai kehidupan. Sebuah simfoni syukur dari jantung Sumatera Selatan untuk Indonesia.
Melalui irama yang emosional dan lirik yang puitis, “Kuat Karena Doa” bukan sekadar lagu biografi, melainkan sebuah pengingat bahwa di balik sosok pemimpin yang kuat, terdapat kerendahan hati untuk bersujud dan memohon kekuatan kepada Yang Maha Kuasa. *
Lirik Lagu: “Kuat Karena Doa”
Dari Bumi Sriwijaya, mimpi itu bermula
Langkah kaki pemuda, membawa sejuta cita
Dari kampung yang sunyi, ia merajut asa
Menjadi pembela keadilan, berjaya di balairung kota
Namun roda berputar, langit tak selamanya terang
Ujian datang menyapa, di tengah jalan yang panjang.
Raga yang perkasa, perlahan mulai merapuh
Ginjal dan jantung menguji, dalam sakit yang sungguh
Namun di balik rintih, ada zikir yang tak terputus
Menembus relung langit, menghalau badai yang arus.
Chorus/reff
Chairul S. Matdiah… bertahan dalam dekapan iman
Chairul S. Matdiah… kokoh karena doa dan harapan
Meski tubuh sempat layu, semangat takkan runtuh
Langkahmu adalah bukti, pengabdian yang utuh
Untuk rakyat, untuk negeri, kau kembali melangkah teguh.
Di kesunyian malam, saat harapan hampir padam
Tangan-tangan tulus datang, membasuh duka yang kelam
Keluarga dan sahabat, menjadi pilar penyangga
Mengalirkan energi, dari kasih dan doa keluarga
Dari sakit kau mengerti, makna hidup yang hakiki
Bahwa nafas yang tersisa, adalah ruang untuk berbagi.
Bukan sekadar kursi, bukan sekadar janji
Engkau hadir di lapangan, menyentuh hati nurani
Nasi bungkus di jalanan, sedekah yang kau tebarkan
Menjadi pelita terang, di tengah kegelapan.
Chorus/reff
Chairul S. Matdiah… bangkit dari badai ujian
Chairul S. Matdiah… tegar di tengah keterpurukan
Meski tubuh sempat layu, semangat takkan runtuh
Langkahmu adalah bukti, pengabdian yang utuh
Untuk rakyat, untuk negeri, kau kembali melangkah teguh.
Reff Akhir
Selama nafas berhembus, cinta akan terus bertahta
Di Bumi Sriwijaya, kisahmu tertulis nyata
Kuat karena doa…
Abadi karena cinta…







