Jejak Sedekah Chairul S Matdiah: Menguras Kantong Pribadi Demi Mengisi Perut Rakyat

Chairul S Matdiah

Palembang, Gajahmatinews.com

Di tengah hiruk-pikuk aspal Kota Palembang, sebuah Mitsubihi Pajero putih tampak menepi dengan tenang. Bukan untuk urusan protokoler atau pertemuan mewah, melainkan untuk sebuah misi kemanusiaan yang sunyi namun konsisten.

Kaca jendela turun, dan dari dalamnya menyembul senyum akrab yang sudah sangat dikenal para pengais rezeki di jalanan. Di balik kemudi itu, muncul sosok Chairul S Matdiah, pria yang pernah menduduki kursi Wakil Ketua DPRD Sumsel, membawa tumpukan nasi bungkus yang masih hangat.

​Pagi itu, bagasi mobilnya tidak berisi koper mewah atau perlengkapan golf. Di sana tertata rapi tumpukan nasi bungkus yang aromanya menggugah selera. Kursi kulit yang nyaman pun harus rela bersentuhan dengan plastik-plastik hangat berisi nasi, lauk, dan doa.

Bagi sebagian orang, SUV mewah mungkin simbol status. Namun bagi Chairul, Pajero putih itu adalah “gerobak sedekah” yang berjalan.

​Setiap kali mobil itu menepi, para tukang becak, pemulung, hingga juru parkir segera mendekat. Mereka tahu, sosok di dalam mobil itu bukan sekadar pejabat yang lewat, melainkan kawan yang datang membawa tenaga untuk hari mereka.

​”Banyak yang bilang, ‘Pak, istirahat saja di rumah kalau sedang tidak fit’. Tapi bagi saya, melihat mereka tersenyum saat menerima nasi ini adalah obat yang tidak dijual di apotek mana pun,” ujar Chairul dengan nada suara yang tenang namun penuh keyakinan.

Bahan Bakar dari Keringat dan Pengabdian

Ada rahasia kecil di balik ribuan nasi bungkus yang dibagikan setiap hari. Uang yang diubahnya menjadi butiran nasi dan lauk pauk itu bukanlah dana hibah atau anggaran kantor, melainkan murni dari kantong pribadinya. Ia menyisihkan setiap rupiah dari gajinya sebagai wakil rakyat, serta menguras tabungan yang ia kumpulkan selama puluhan tahun berkarier sebagai pengacara.

Baginya, uang itu akan lebih bernilai jika berubah menjadi tenaga bagi seorang kuli panggul, daripada hanya tersimpan rapat di buku tabungan yang dingin.

​”Setiap rupiah yang saya dapatkan dari profesi pengacara dulu hingga gaji sebagai anggota dewan, ada hak mereka di dalamnya. Saya tidak ingin memakan semuanya sendiri. Membagikannya bukan berarti saya berlebih, tapi karena saya tahu rasanya berjuang,” ungkap Chairul dengan tatapan mata yang dalam.

Setiap harinya, Chairul disibukkan dengan persiapan ratusan nasi bungkus. Sasaran utamanya jelas, anak yatim, kaum dhuafa, pemulung, hingga pengemudi ojek daring yang tengah berjuang mencari nafkah di jalanan Kota Palembang.

​Kegiatan ini bukan sekadar pencitraan musiman. Ini adalah rutinitas yang telah menyatu dengan kesehariannya.

“Sedekah nasi bungkus ini adalah bentuk rasa syukur dan upaya untuk selalu dekat dengan masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Chairul S Matdiah bersama Haji Alim, atau Kemas Haji Abdul Halim Ali.

Melawan Sakit Dengan Memberi

​Yang membuat pemandangan ini luar biasa adalah saat-saat ketika tubuh Chairul tidak sedang dalam kondisi prima. Ada kalanya ia harus berkeliling dengan kondisi fisik yang lemah karena harus menjalani perawatan kesehatan. Namun, ia seolah memiliki “bahan bakar” batiniah yang luar biasa.

​Ia menolak untuk menyerah pada rasa sakit selama masih ada perut yang lapar yang bisa ia bantu kenyangkan. Baginya, janji pada diri sendiri untuk berbagi setiap hari adalah amanah yang tak boleh dikhianati oleh rasa lelah fisik.

Meski tengah menjalani perawatan kesehatan, semangat Chairul untuk berbagi tidak luntur. Baginya, rasa sakit fisik bukanlah alasan untuk menghentikan aliran sedekah.

“Kebaikan dan kepedulian tidak mengenal batas. Bahkan dalam kondisi sulit sekalipun, tangan harus tetap di atas,” katanya.

“Hidup ini singkat. Jabatan itu ada batasnya, tapi persaudaraan dan sedekah itu bekal yang kita bawa sampai mati. Selagi tangan masih bisa bergerak untuk memberi, saya akan terus berkeliling,” tambahnya sambil menyeka peluh.

​Keteguhan hati ini membuktikan bahwa dedikasi sosial Chairul telah melampaui kewajiban formal sebagai anggota dewan. Ia menunjukkan wajah politik yang lebih manusiawi: politik yang mengenyangkan perut rakyat.

Lebih dari Sekadar Nasi

​Apa yang dilakukan Chairul dengan Pajero putihnya bukan sekadar bagi-bagi makanan gratis. Ini adalah tentang kehadiran. Ia menunjukkan bahwa seorang anggota dewan tidak harus selalu berada di balik meja mahoni yang dingin atau ruang rapat yang formal.

​”Terkadang kita terlalu sibuk bicara kebijakan di atas kertas, sampai lupa melihat langsung keringat mereka di aspal. Saya hanya ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian,” katanya sebelum kembali memacu pelan mobilnya menuju titik keramaian berikutnya.

​Melalui rute-rute jalanan yang ia lalui setiap hari, Chairul S Matdiah sedang menulis sebuah cerita bahwa kemewahan sejati sebuah jabatan dan kendaraan yang menyertainya hanyalah sejauh mana ia bisa mengantarkan manfaat bagi mereka yang sering terlupakan di trotoar kehidupan.

Kisah Chairul S Matdiah mengingatkan bahwa jabatan dan harta hanyalah titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah seberapa tinggi kursi yang kita duduki atau seberapa mewah mobil yang kita kendarai, melainkan seberapa banyak perut lapar yang berhasil kita kenyangkan dan seberapa besar manfaat yang kita tebar selagi napas masih dikandung badan. *

Pos terkait