Palembang, Gajahmatinews.com
Dalam riuh rendah industri musik yang seringkali hanya mengejar tren sesaat, Chairul S Matdiah justru memilih jalan sunyi yang reflektif. Lewat karya terbarunya yang bertajuk ‘Jejak yang Tak Pernah Padam’, tokoh yang dikenal memiliki kepekaan rasa yang dalam ini mencoba merangkai kembali serpihan kenangan menjadi sebuah harmoni yang abadi.
Lagu ini bukan sekadar deretan nada yang disusun rapi. Ia adalah sebuah narasi tentang napas, waktu, dan apa yang kita tinggalkan di belakang saat dunia terus berlari kencang. Lagu ini adalah narasi tentang keteguhan. Seperti judulnya, ia bercerita tentang sesuatu yang tetap tinggal meskipun waktu berusaha menghapusnya.
Sejak denting instrumen pertama dimulai, pendengar seolah diajak masuk ke dalam ruang kontemplasi Chairul. Liriknya tidak berusaha menjadi rumit dengan diksi yang berat, namun kekuatannya justru ada pada kejujuran. ‘Jejak yang Tak Pernah Padam’ berbicara tentang pengabdian, entah itu kepada pasangan, orang tua, atau bahkan kepada cita-cita yang diperjuangkan seumur hidup.
Bagi Chairul, setiap langkah dalam hidup meninggalkan bekas. Meski badai cobaan atau “hujan” waktu datang silih berganti, ada bagian dari diri manusia yang tak akan pernah luntur: kasih sayang dan dedikasi.
Chairul S Matdiah dikenal sebagai sosok yang mampu menyatukan logika dan rasa. Dalam lagu ini, kita bisa merasakan bagaimana pengalaman hidupnya menjadi tinta utama dalam menulis lirik. Ada nuansa melankolis yang indah, namun tidak meratap. Sebaliknya, lagu ini memberikan semacam kekuatan sebuah pengingat bahwa apa yang kita tanam dengan hati tidak akan pernah benar-benar hilang. Chairul seolah ingin menyampaikan bahwa lagu ini adalah buah dari perenungan panjang.
Aransemennya terasa megah namun intim, memadukan tarikan instrumen yang dalam dengan lirik yang puitis. ‘Jejak Tak Pernah Padam’ seakan mengajak pendengarnya untuk menoleh sejenak ke belakang, menatap langkah-langkah kaki yang telah terpatri di tanah kehidupan.
Aransemennya yang dibangun dengan penuh perasaan memberikan ruang bagi vokal untuk menyampaikan pesan secara subtil namun tetap menghujam.
Karya ini diprediksi bukan hanya akan menjadi daftar putar bagi mereka yang sedang bernostalgia, tetapi juga bagi mereka yang sedang mencari alasan untuk terus bertahan. Chairul S Matdiah telah berhasil membuktikan bahwa seni yang jujur akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju hati pendengar.
Pada akhirnya, ‘Jejak yang Tak Pernah Padam’ adalah cermin bahwa di dunia yang fana ini, satu-satunya hal yang bisa kita tinggalkan dengan bangga adalah jejak kebaikan dan cinta yang takkan pernah mati, meski zaman telah berganti.
Menepis Sunyi, Mengabadikan Rasa
Ada luka yang sembuh oleh waktu, namun ada pula rasa yang justru semakin mengakar saat jarak membentang. Filosofi inilah yang coba dipahat oleh Chairul S Matdiah melalui gubahan terbarunya, ‘Jejak yang Tak Pernah Padam’. Sebuah karya yang lahir bukan hanya dari imajinasi, melainkan dari kedalaman kontemplasi atas perjalanan hidup yang panjang.
Lagu ini dibuka dengan suasana yang intim, membawa pendengar pada sebuah ruang rindu yang sunyi namun hangat. Melalui liriknya, Chairul seolah ingin menegaskan bahwa perpisahan fisik hanyalah sebuah fase, namun pengaruh dan kasih sayang adalah entitas yang abadi.
“Seringkali kita takut kehilangan, padahal yang sejati takkan pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat, dari pandangan mata ke dalam palung hati yang paling dalam,” ujar Chairul dengan nada bicara yang tenang saat merefleksikan makna lagunya.
Secara musikalitas, ‘Jejak yang Tak Pernah Padam’ tidak mengandalkan dentum instrumen yang megah secara berlebihan. Kekuatannya justru terletak pada kejujuran aransemen yang membiarkan setiap kata bernapas. Ada getaran emosional yang kuat saat lagu mencapai bagian chorus, seolah menjadi puncak dari sebuah pengakuan dosa atau pernyataan cinta yang tertunda.
Bagi mereka yang mendengar, lagu ini terasa seperti sebuah pelukan di tengah badai. Chairul dengan cerdas menjahit diksi yang sederhana namun memiliki daya ledak emosi yang subtil. Ia bercerita tentang jejak kaki yang tetap nyata meskipun ombak waktu berkali-kali mencoba menghapusnya.
Melalui feature musik ini, Chairul S Matdiah juga menitipkan pesan bagi setiap orang yang sedang berjuang melawan rasa kehilangan. Baginya, mengenang bukanlah bentuk kelemahan, melainkan cara manusia menghargai eksistensi seseorang yang pernah mewarnai hidupnya.
“Lagu ini adalah persembahan untuk mereka yang tetap memilih untuk mencintai, meski tanpa kehadiran. Untuk mereka yang percaya bahwa ada sesuatu yang lebih kuat dari kematian, yaitu jejak kebaikan yang takkan pernah padam oleh zaman,” tambahnya.
Narasi di Balik Judul: Eksistensi yang Kekal
Mengapa ‘Jejak Tak Pernah Padam’? Judul ini membawa beban filosofis yang cukup berat. Dalam narasi yang dibangun Chairul, ia menekankan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, adalah sebuah torehan sejarah.
“Lagu ini adalah tentang keyakinan bahwa hidup kita punya arti. Bahwa ada sesuatu dari diri kita yang akan tetap tinggal, menjadi cahaya bagi mereka yang datang setelah kita,” ujar Chairul.
Dengan rilisnya lagu ini, Chairul S Matdiah tidak hanya menambah diskografi musiknya, tetapi juga memberikan sebuah ‘peta emosional’ bagi siapa saja yang sedang mencari makna dalam perjalanannya.
Melalui liriknya, Chairul S Matdiah ingin berpesan bahwa jabatan hanyalah sementara, namun jejak kebaikan yang kita tanam dalam ingatan masyarakat melalui jalan hukum dan politik akan menjadi cahaya yang terus menyala, bahkan saat kita sudah tidak lagi berada di panggung tersebut. #fly
Berikut lirik lagu
Jejak yang Tak Pernah Padam Chairul S Matdiah
Dari desa Gajah Mati, mimpi mulai bersemi
Langkah kecil menembus sepi, demi hidup yang berarti
Pernah jual kopi di pagi hari, menulis berita di sunyi
Kini berdiri lurus mengabdi, membela rakyat sepenuh hati.
Di jalur hukum ia melangkah pasti
Menyuarakan kebenaran tanpa ragu lagi,
Demokrat jadi jalan perjuangan
Untuk Sumsel yang lebih berkeadilan.
Reff:
Chairul S Matdiah… Chairul S Matdiah…
Jejakmu terukir di jalan amanah
Chairul S Matdiah… Chairul S Matdiah…
Pengabdian tulus tak pernah lelah.
Di Komisi Satu mengabdi negeri
Menjaga hukum, suara rakyat berseri,
Tiga periode bukti setia
Untuk Sumatera Selatan tercinta.
Tak silau harta, tak goyah kuasa
Integritas jadi cahaya jiwa
Dari rakyat, untuk rakyat
Jejak baktimu takkan terlewat.
Reff akhir
Chairul S Matdiah… Chairul S Matdiah…
Namamu hidup di doa dan harap
Chairul S Matdiah… Chairul S Matdiah…
Sumsel bangga atas baktimu yang tulus dan mantap.







