Literasi Finansial, Strategi Bisnis Bisa Bertahan Lebih dari Lima Tahun

Adelia, Monica Marsela dan Nurhalizah. (FOTO: IST).

Disusun Oleh:

Adelia, Monica Marsela dan
Nurhalizah.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Semester 5, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti (Unanti) Palembang.


MEMULAI sebuah bisnis bukanlah hal yang mudah, mempertahankannya apalagi, bisa lebih sulit. Kisah perjuangan Aqua menjadi salah satu contoh inspiratif, di mana idenya yang awalnya dianggap aneh dan diremehkan justru menjadi sebuah kesuksesan besar.

Kisah perjuangan Aqua dimulai dari ide Tirto Utomo, yang melihat masalah kesehatan akibat air minum tidak steril pada tamu asing dan menginspirasinya untuk memproduksi air minum dalam kemasan pertama di Indonesia pada tahun 1973.

Perjuangan utama Aqua adalah meyakinkan masyarakat yang skeptis dengan produk air putih kemasan yang dianggap aneh dibandingkan air rebusan biasa. Perjuangan ini meliputi kesulitan penjualan di awal, kerugian finansial, hingga strategi marketing seperti memberikan sampel gratis dan menaikkan harga agar dianggap berkualitas tinggi.

Salah satu kutipan dari Tirto Utomo sangat terkenal, yaitu:

“Banyak orang mengira bahwa memproduksi air kemasan adalah hal yang mudah. Mereka pikir yang dilakukan hanyalah memasukkan air kran ke dalam botol. Sebetulnya, tantangannya adalah membuat air yang terbaik, mengemasnya dalam botol yang baik dan menyampaikannya ke konsumen.”

Begitu pula produk Tolak Angin yang di masa-masa awal masih kesulitan menemukan formula yang tepat untuk penyajian produk mereka. Namun kedua merek ini tetap bisa bertahan sampai detik ini.

Kisah Tolak Angin berawal dari kerajinan jamu oleh Ibu Rakhmat Sulistio (Go Djing Nio) pada tahun 1930 di Yogyakarta. Berawal dari jamu godokan cair yang diracik sendiri untuk meringankan gejala masuk angin, produk ini kemudian dikembangkan menjadi “Jamu Tujuh Angin”. Seiring waktu, Tolak Angin mengalami inovasi dan perkembangan, mulai dari bentuk serbuk (1951) hingga menjadi produk cair siap minum modern yang dikenal luas hingga kini melalui perusahaan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. yang didirikan oleh Siem Thiam Hiey (Rakhmat Sulistio) dan Go Djing Nio.

Produk Aqua. (FOTO: NET).

Kunci Sukses Perusahaan Besar

Lantas, apa yang jadi kunci utama dari keberhasilan sebuah perusahaan bisa terus berjaya hingga bertahun-tahun. Atau setidaknya selama lima tahun bisa bertahan sebagai angka yang bisa kita sebut umur psikologis perusahaan? Maka jawabannya adalah literasi keuangan, tentang bagaimana pemahaman dan kemampuan suatu perusahaan dalam mengelola keuangan mereka. Ke mana uang dibelanjakan, di mana sektor yang terkena penghematan, kebijakan apa yang diperlukan menyesuaikan dengan uang yang tersedia.

Literasi keuangan adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola keuangan secara efektif, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi keputusan finansial sehari-hari. Kemampuan ini memungkinkan individu untuk membuat keputusan finansial yang tepat demi mencapai kesejahteraan finansial, yang meliputi pemahaman tentang cara menghasilkan, membelanjakan, menabung, berinvestasi, meminjam, dan melindungi uangnya.

Hal sederhana namun sangat dibutuhkan oleh semua jenis perusahaan maupun unit bisnis, sekalipun itu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Baik yang lama, terlebih lagi yang baru merintis. Karena yang baru merintis tentu dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas dan berupaya mendapatkan keuntungan secepatnya-cepatnya.

Seiring berjalannya waktu, pemahaman akan literasi finansial yang baik bagi UMKM tentu akan semakin baik. Meski demikian, akan lebih bijak lagi bila sebuah UMKM telah terbiasa dengan literasi finansial melalui perencanaan keuangan yang baik. Penyusunan anggaran yang terukur dan terencana dapat menjadi poin utama untuk membiasakan diri dengan literasi finansial. Mulai dari rencana modal, pembelian, jumlah produksi hingga target penjualan.

Selain karena kualitas dan pemasaran, ada satu hal lagi yang sering menjadi pusat perhatian banyak orang. Yaitu terkait modal, sesuatu yang dianggap penting dan krusial. Sebagai penyebab dari berbagai perusahaan bisa terus bertahan dan eksis. Pendapat ini sesungguhnya tidak salah, tapi tidak sepenuhnya salah. Mengingat ada sebagian perusahaan yang tetap bertahan meski di awal dengan modal yang sedikit.

Seperti kunci sukses Aqua adalah kombinasi strategi pemasaran yang cermat, inovasi produk, dan komitmen terhadap kualitas dan kelestarian lingkungan. Aqua berhasil menjadi pionir dengan strategi pemasaran awal yang inovatif, seperti pendekatan penjualan langsung dan penentuan harga yang unik, serta terus beradaptasi dengan memasukkan produk yang beragam dan menggunakan media sosial.

Aneka produk Tolak Angin. (FOTO: NET).

Sementara kesuksesan brand Tolak Angin saat ini dimulai dari niat baik untuk menghasilkan produk yang baik. Dengan produk yang baik itulah produk Tolak Angin pun mudah diterima konsumen di dalam dan luar negeri.

Selain itu, nama baik keluarga yang diwariskan juga secara tak langsung menjadi pendorong kesuksesan. Karena, tanpa nama baik, akan sulit membuat citra brand ini terus diingat sebagai jamu keluarga Indonesia.

Kesuksesan Aqua dan Tolak Angin mengajarkan pelajaran penting untuk memulai dan menjalankan bisnis, seperti pentingnya menjadi pionir dan fokus pada visi, tidak takut menghadapi persaingan, menentukan harga yang tepat untuk kualitas, menerapkan inovasi terus-menerus, membangun citra merek yang kuat dan mudah diingat, serta memastikan distribusi yang luas dan menjangkau konsumen. *

✍️ Catatan :

Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktikum Kewirausahaan Universitas Tridinanti.

 

Pos terkait