Palembang, Gajahmatinews.com
Ketika hiruk-pikuk dunia perlahan meredup dan lampu-lampu jalan mulai mengambil alih cahaya, bagi Chairul S Matdiah, waktu seolah melambat. Di saat itulah, ruang tamu yang sunyi atau sudut kamar yang tenang berubah menjadi panggung bagi kenangan yang tak pernah pudar. Malam bukan lagi sekadar waktu untuk beristirahat, melainkan saat ia kembali “bertemu” dengan kedua adiknya, Darmiat Darmowidakdo dan Aguspianto.
Dalam remang malam, Chairul kerap teringat bagaimana suara Darmiat dan Aguspianto dahulu mengisi rumah. Penyakit ginjal yang menyerang mereka memang perlahan melemahkan fisik, namun malam-malam seperti ini mengingatkan Chairul bahwa semangat persaudaraan mereka tak pernah layu.
Ia terkenang bagaimana jemari mereka yang mendingin karena anemia atau lelahnya wajah mereka usai proses cuci darah yang menguras tenaga. Namun, yang paling tajam menusuk kalbu adalah ingatan tentang ketabahan mereka, bagaimana keduanya tetap mencoba tegak meski raga dikhianati oleh fungsi ginjal yang kian menurun.
Menatap langit malam bagi Chairul kini terasa berbeda. Ada dua bintang yang seolah ia tandai sebagai representasi dari keberanian kedua adiknya. Darmiat, yang mengajarkannya tentang arti penerimaan tanpa banyak mengeluh. Aguspianto, yang menunjukkan bahwa meski waktu terbatas, kasih sayang harus tetap tak terbatas.
Kepergian keduanya dalam perjuangan yang serupa meninggalkan lubang besar yang tak mungkin tertutup. Namun, di tengah kesunyian malam, Chairul sering kali menemukan kekuatan baru. Ia menyadari bahwa duka ini adalah bukti betapa besar cinta yang pernah ada di antara mereka.
Di sela-sela hening, doa-doa tulus dipanjatkan. Chairul memahami bahwa takdir telah membawa Darmiat dan Aguspianto ke tempat yang lebih indah, tempat di mana tak ada lagi mesin dialisis, tak ada lagi pantangan air minum, dan tak ada lagi nyeri yang menghujam punggung.
Malam ini, kerinduan itu datang lagi. Bukan sebagai kesedihan yang merusak, melainkan sebagai pengingat akan janji seorang kakak untuk terus menjaga nama baik dan meneruskan kebaikan-kebaikan yang pernah ditinggalkan oleh kedua adiknya.
Bagi seorang Chairul S Matdiah, nama Darmiat dan Aguspianto bukan sekadar nama dalam silsilah keluarga. Keduanya adalah potongan jiwanya. Kini, ketika langkah kaki tak lagi terdengar dan tawa di meja makan telah senyap, Chairul harus belajar merangkul takdir bahwa kedua adiknya telah beristirahat setelah perjalanan panjang melawan penyakit ginjal yang menguji batas ketabahan mereka.
Penyakit ginjal bukan hanya tentang rasa sakit fisik, melainkan tentang ketahanan mental. Chairul menyaksikan sendiri bagaimana Darmiat dan Aguspianto menghadapi hari-hari yang berat. Dari satu jadwal cuci darah ke jadwal berikutnya, dari satu pembatasan asupan air ke pembatasan lainnya.
Namun, di mata Chairul, kedua adiknya adalah petarung sejati. Ada kekuatan yang luar biasa saat melihat mereka tetap berusaha tersenyum di tengah pucatnya wajah, atau saat mereka tetap ingin memberikan perhatian kepada keluarga meski tubuh sedang dalam titik terlemah.
“Kehilangan satu saudara adalah duka yang berat, namun kehilangan dua adik dalam perjuangan yang sama adalah ujian keikhlasan yang luar biasa,” ujar Chairul lirih menggambarkan batinnya saat ini.
Mengenang Darmiat dan Aguspianto bagi Chairul adalah mengingat kembali masa kecil mereka, canda gurau yang pernah pecah, dan dukungan yang saling mereka berikan sebagai saudara. Darmiat dengan segala kenangan khasnya yang meninggalkan jejak di hati keluarga.
Aguspianto dengan keberaniannya menatap hari meski raga tak lagi bertenaga.
Keduanya kini telah terbebas dari jerat mesin dialisis dan jarum suntik. Mereka telah pergi ke tempat di mana rasa sakit tidak lagi dikenal, meninggalkan Chairul dengan tanggung jawab untuk menjaga agar nyala kenangan tentang mereka tidak pernah padam.
Kepergian Darmiat dan Aguspianto menjadi pengingat bagi Chairul S Matdiah tentang betapa berharganya setiap detik bersama orang tercinta. Kini, setiap kali ia melihat ke langit atau saat keheningan malam tiba, wajah kedua adiknya hadir sebagai sumber kekuatan.
Kisah mereka bukan hanya tentang kekalahan melawan penyakit, melainkan tentang kemenangan kasih sayang. Meski ginjal mereka berhenti berfungsi, cinta yang mereka berikan kepada Chairul dan keluarga tetap mengalir, menjadi detak jantung baru bagi mereka yang ditinggalkan.
Bagi Chairul, mereka tidak benar-benar pergi. Selama namanya masih disebut dalam doa dan sifat baiknya diceritakan kepada anak cucu, Darmiat dan Aguspianto akan selalu “pulang” ke rumah hati sang kakak.
Aguspianto Matdiah: Suara Rakyat di Parlemen Provinsi
Dunia politik dan hukum di Sumatera Selatan kehilangan dua putra terbaiknya. Aguspianto Matdiah dan Darmiat Matdiah bukan sekadar nama dalam lembaran berita, mereka adalah representasi dari semangat pengabdian keluarga Matdiah yang berakar kuat di Bumi Sriwijaya. Kini, meski raga telah tiada, warisan kebaikan dan kiprah mereka tetap hidup dalam ingatan.
Aguspianto Matdiah dikenal sebagai sosok yang tenang namun gigih. Sebagai kader Partai Demokrat, ia mengemban amanah besar sebagai Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan periode 2014-2019. Mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) 3, Aguspianto menjadi jembatan bagi aspirasi masyarakat yang diwakilinya.
Langkah politiknya sering kali disandingkan dengan sang kakak, Chairul S Matdiah, yang juga merupakan tokoh senior di DPRD Sumsel. Bagi mereka, politik bukan sekadar jabatan, melainkan ladang untuk menebar manfaat bagi orang banyak. Dedikasinya selama lima tahun di kursi legislatif provinsi telah meninggalkan jejak pembangunan dan kebijakan yang dirasakan langsung oleh konstituennya.
Darmiat Matdiah: Sang Pengacara dan Pilar Legislatif OKI
Tak kalah gemilang, sang adik, Darmiat Matdiah, meniti jalurnya sendiri di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Sebelum dikenal luas di tingkat provinsi, Darmiat adalah pilar penting di legislatif daerah. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten OKI periode 2009-2014. Di sana, ia dikenal sebagai sosok yang kritis namun solutif dalam mengawal kebijakan pemerintah daerah.
Di luar gedung parlemen, Darmiat adalah seorang pengacara yang sukses. Kepiawaiannya dalam dunia hukum menjadikannya sosok yang disegani. Sebagai adik dari pengacara senior dan politisi Chairul S Matdiah, Darmiat berhasil membuktikan bahwa integritas dan kerja keras adalah kunci utama dalam meraih kepercayaan publik, baik di meja hijau maupun di kursi dewan.
Tidurlah Dengan Damai Adik-Adikku
Kepergian Aguspianto dan Darmiat meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Matdiah. Keduanya adalah saudara kandung yang saling bahu-membahu dalam menjaga marwah keluarga di ranah publik.
Bagi Chairul S Matdiah, melepaskan Darmiat dan Aguspianto adalah perjalanan keikhlasan yang panjang. Namun, setiap malam menutup mata, ia tahu bahwa esok pagi ia akan membawa semangat kedua adiknya dalam setiap langkah hidupnya. Mereka telah bebas, mereka telah sembuh di sisi Sang Pencipta.
Malam kembali membawa sunyi, Namun di hati, kalian tak pernah pergi. Ada rindu yang mengalir setenang air, Mengingat langkah yang kini telah berakhir.
Darmiat dan Aguspianto, dua raga yang pernah berjuang hebat, Melawan sakit dengan sabar yang terpahat. Kini kalian telah bebas, telah sembuh, Di tempat yang jauh lebih indah dan teduh.
Tiada lagi mesin yang berderu, Tiada lagi jarum yang menusuk pilu. Hanya ada kedamaian di sisi Tuhan, Meninggalkan kami dalam doa dan kenangan.
Tidurlah dengan tenang, Adik-adikku, Cinta kakak akan selalu menjagamu, Hingga nanti kita bertemu di waktu yang baru.
Kini, doa-doa terbaik dipanjatkan untuk mereka. Semoga amal ibadah dan segala pengabdian yang telah mereka berikan untuk Sumatera Selatan menjadi pahala yang terus mengalir.
Selamat jalan, Darmiat dan Aguspianto. Istirahatlah dalam damai di sisi-Nya.
Al-Fatihah…







