Di Balik Antrean Solar: Krisis Global yang Tak Boleh Diabaikan

Armansyah.

Oleh: Armansyah

Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tridinanti Palembang.

KELANGKAAN solar hari ini tidak bisa lagi dibaca sebagai masalah satu negara atau satu daerah. Ia adalah gejala dari guncangan energi yang melanda seluruh dunia. Badan Energi Internasional (IEA) pada 14 Oktober 2026 memperingatkan bahwa pasar diesel global bisa tetap ketat hingga tahun depan, dengan harga tinggi yang mendorong inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi karena konflik menekan produksi dari Timur Tengah dan Rusia. Artinya, antrean panjang di berbagai SPBU hanyalah ujung dari rantai persoalan yang jauh lebih panjang.

Angkanya menunjukkan betapa dalam tekanan itu. IEA mencatat bahwa gangguan ekspor Timur Tengah, ditambah pasokan Rusia dan sejumlah negara Asia yang menurun, memangkas ketersediaan diesel dunia sebesar 1,5 juta barel per hari pada kuartal kedua 2026 dan 1,7 juta barel per hari pada kuartal ketiga dibanding tahun sebelumnya.

Pada September, gabungan kehilangan pasokan dari dua kawasan itu mencapai 1,3 juta barel per hari, setara sekitar 4,5 persen kebutuhan diesel dunia tahun ini. Margin penyulingan diesel pun menyentuh rekor hampir 95 dolar AS per barel pada September, akibat serangan terhadap infrastruktur energi yang terkait perang Iran dan Ukraina.

Yang membuat situasi ini rumit adalah sifat masalahnya. Kekurangan terjadi pada bahan bakar olahan dan pengangkutannya, bukan semata pada minyak mentah. Laporan yang mengutip IEA menyebut bahwa kekurangan itu berada pada diesel olahan dan pelayaran, bukan pada minyak mentah, sehingga harga diesel bisa naik lagi di Eropa, Afrika, dan Amerika Latin meski harga minyak mentah turun. Bagi negara dan pelaku usaha yang bergantung pada impor produk olahan, ini berarti kita bisa terkena dampak walaupun harga minyak di pasar tampak mereda.

Dampaknya merambat ke seluruh ekonomi. IEA menegaskan bahwa harga diesel yang mencetak rekor sudah berimbas luas, menaikkan biaya barang, menggerus pendapatan riil, menekan aktivitas ekonomi, dan memicu inflasi. Wajar bila diesel disebut urat nadi, sebab bahan bakar ini dipakai luas di industri, pertanian, dan transportasi. Ketika solar tersendat, bukan hanya truk yang berhenti, tetapi juga distribusi pangan, produksi pabrik, hingga harga di rak toko.

Respons dunia pun bergerak di dua jalur. Di tingkat pemerintah, anggota IEA berkoordinasi melepas 100 juta barel minyak dan diesel dari cadangan darurat untuk menenangkan harga. Pada 2 Oktober, para pemimpin G7 berjanji mempercepat pelepasan stok darurat itu dengan memprioritaskan diesel. Namun, cadangan hanyalah bantalan sementara.

IEA sendiri mengingatkan bahwa seiring menipisnya penyangga di dalam sistem, pasar minyak bisa mengalami gejolak lebih lanjut sebelum surplus muncul pada 2027, selama konflik di Timur Tengah belum terselesaikan. Bahkan, stok yang terkuras diperkirakan baru pulih pada paruh kedua tahun depan.

Di sinilah Manajemen Strategi menjadi kunci bagi pelaku usaha. Pelajaran pertama adalah bahwa kita tidak bisa mengendalikan geopolitik, tetapi kita bisa mengendalikan seberapa boros kita memakai bahan bakar. Perusahaan logistik perlu mengevaluasi rute dan jadwal armadanya, memastikan muatan optimal tanpa melampaui batas legal, memantau konsumsi secara langsung lewat teknologi pelacakan, dan melatih pengemudi berkendara hemat. Perawatan mesin yang rutin, mulai dari filter hingga injektor, juga menjadi investasi kecil yang membuahkan penghematan nyata.

Pelajaran kedua menyangkut ketahanan pasokan. Dunia sedang menyaksikan betapa rapuhnya ketergantungan pada satu jalur. Karena itu, usaha yang bijak menjalin kemitraan jangka panjang dengan pemasok resmi, memiliki pemasok cadangan yang sah, dan bila regulasi memungkinkan, menyiapkan tangki penyimpanan sendiri sebagai penyangga operasional. Prinsip yang sama dipraktikkan negara-negara besar lewat cadangan strategis mereka, hanya saja dalam skala yang berbeda.

Pelajaran ketiga bersifat jangka panjang. Laporan IEA terkait investasi energi 2026 menyebut krisis ini mendorong penataan ulang investasi energi global dan percepatan diversifikasi dari jalur pasokan Timur Tengah. Pesannya jelas bagi dunia usaha, kajian peralihan sebagian armada ke kendaraan listrik atau bahan bakar alternatif tidak lagi layak ditunda sebagai wacana. Transisi tidak harus dilakukan sekaligus, tetapi harus dimulai dari sekarang, sebelum krisis berikutnya memaksa kita melakukannya dalam keadaan terdesak.

Krisis bahan bakar global ini pada akhirnya menguji siapa yang berpikir ke depan dan siapa yang hanya bereaksi. Pemerintah punya tugas menjaga stabilitas pasokan, tetapi setiap pelaku usaha punya tugas menjaga ketahanannya sendiri. Mereka yang menerapkan efisiensi, mengamankan pasokan, dan menyiapkan alternatif hari ini akan keluar dari krisis ini lebih kuat, sementara yang menunggu akan terus mengantre.

Bagaimana Dengan Sumsel?

Antrean truk yang mengular di Jalan Kol H Barlian dan simpang bandara Palembang kini jadi pemandangan harian. Kendaraan dijadwalkan mengisi solar mulai malam hari, tetapi antrean sudah terbentuk sejak siang. Persoalan ini bukan lagi sekadar urusan SPBU. Ini urusan denyut ekonomi Sumatera Selatan.

BPH Migas menetapkan kuota solar subsidi 2026 sebesar 18.636.500 kiloliter, turun 1,32 persen dibanding kuota 2025. Di sisi lain, penyaluran solar subsidi hingga 30 Juni 2026 sudah mencapai 50,85 persen kuota, dan naik setelah harga solar nonsubsidi dinaikkan pada Juni 2026. Artinya, separuh kuota habis dalam enam bulan.

Pemerintah juga mengetatkan pengendalian. Sejak 1 April 2026, pembelian melebihi kuota dikenai harga nonsubsidi. Bagi pelaku usaha logistik, kebijakan ini berarti biaya operasional makin sulit diprediksi.

Salah satu hal paling relevan dari data lapangan sopir kini memilih SPBU 24 jam agar tidak bentrok dengan jam istirahat. Perusahaan yang menyusun jadwal pengisian berbasis data, bukan spontanitas, akan lebih hemat waktu.

Kelangkaan solar bukan hanya soal kuota di Jakarta atau pasokan FAME di hulu. Ia juga soal kesiapan kita di hilir. Pemerintah perlu memperbaiki distribusi, tetapi pelaku usaha tidak bisa menunggu. Mereka yang menerapkan manajemen strategi hari ini akan jadi yang paling siap bertahan saat antrean berikutnya datang. *

Pos terkait