Palembang, Gajahmatinews.com
Di bawah rimbunnya bayang-bayang Jembatan Ampera pada penghujung dekade 1970-an, seorang bocah lelaki menjajakan kopi kepada para pekerja dan pengunjung yang lalu lalang.
Ia bangun sebelum subuh, meracik kopi dengan tangan mungilnya, lalu berlari mengejar waktu agar tak terlambat masuk sekolah. Tidak ada yang menyangka, dari gerobak kopi sederhana itu, kelak lahir seorang wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD Provinsi Sumatera Selatan.
Dialah H Chairul S Matdiah, SH, MHKes, politisi Partai Demokrat yang kini menjabat Anggota DPRD Sumsel tiga periode (2014-2019, 2019-2024, 2024-2029). Perjalanan hidupnya panjang dan berliku dari penjual kopi, kernet angkot, wartawan Majalah Fakta Surabaya dan kontributor RCTI, advokat yang pernah menangani puluhan perusahaan besar, hingga akhirnya menjadi anggota legislatif yang dikenal dekat dengan masyarakat kecil.
Namun di balik jabatan dan gelar yang disandangnya, orang-orang terdekat justru lebih sering bercerita tentang sosoknya sebagai manusia. Dari kesaksian keluarga, sahabat, hingga mantan ajudan yang pernah mendampinginya, tergambar setidaknya dua belas karakter yang membentuk jati diri Chairul S Matdiah.
1. Kerja Keras
Jejak kerja keras Chairul dimulai jauh sebelum ia mengenal podium politik. Sejak usia belia ia sudah berjualan kopi di bawah Jembatan Ampera, bangun dini hari demi menyiapkan dagangan sebelum berangkat sekolah. Kebiasaan itu terbawa hingga dewasa. Mantan ajudannya, M Fakhri Azhar, menuturkan bahwa meski usianya sudah tidak muda lagi, namun semangat mengabdi dan bekerja untuk masyarakat tetap tinggi dan penuh dedikasi.
2. Tangguh dan Pantang Menyerah
Karier Chairul bukan tanpa goncangan. Sebagai advokat, praktiknya sempat anjlok drastis ketika tokoh yang ia dukung kalah dalam Pilkada Gubernur Sumsel 2008. Alih-alih menyerah, ia bangkit kembali dan merintis jaringan baru hingga usahanya pulih. Sikap pantang menyerah itulah yang kerap disebut rekan-rekannya sebagai fondasi dari setiap pencapaiannya.
3. Fokus Dengan Apa yang Sedang Dikerjakan Hingga Sampai Menjadi yang Terbaik
Dari dunia jurnalistik ke dunia hukum, lalu ke panggung politik, Chairul dikenal tak pernah setengah-setengah menekuni satu bidang. Prinsip kerja tuntas menyelesaikan apa yang sudah dimulai tanpa menyisakan pekerjaan setengah jalan, menjadi pegangan yang ia tanamkan bahkan kepada bawahannya.
4. Ahli Strategi
Pengalamannya menangani puluhan perusahaan besar semasa menjadi advokat, serta kemampuannya membaca situasi politik yang berubah cepat, menunjukkan kejelian seorang pembaca peta permainan. Kemampuan strategis itu pula yang membantunya bertahan dan naik kembali setelah masa-masa sulit dalam kariernya.
5. Berani
Sebagai pengacara, Chairul kerap berdiri di ruang sidang yang penuh tekanan, mengemban tanggung jawab moral yang tidak ringan demi membela kliennya. Keberanian itu berlanjut ketika ia menjadi legislator. Chairul tak segan angkat bicara secara terbuka dan tegas menanggapi isu-isu yang menuai sorotan publik, termasuk soal penggunaan anggaran daerah.
6. Tulus
Ketulusan Chairul tergambar dari cara ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya. Mantan ajudannya mengaku sempat merasa dianggap seperti anak sendiri, bukan sekadar bawahan. Relasi yang terjalin bukan berdasarkan jabatan, melainkan kedekatan personal yang tulus.
7. Ahli Sedekah dan Senang Berbagi
Kebiasaan berbagi telah mengakar sejak Chairul masih berprofesi sebagai wartawan hingga pengacara, jauh sebelum ia menjabat sebagai anggota dewan. Aksi berbagi ribuan paket nasi bungkus kepada tukang becak, pengemudi ojek daring, hingga lansia di berbagai titik Kota Palembang saat Ramadan menjadi salah satu buktinya. Baginya, jabatan bukan alasan untuk berhenti peduli, melainkan ruang yang lebih luas untuk berbagi manfaat.
“Setiap melihat mereka tersenyum, itu menjadi energi bagi saya. Lelah hilang, justru semakin semangat,” ujar Chairul.
8. Dikelilingi Orang-Orang Baik dan Sukses yang Mendukung Masa Depan
Relasi Chairul terbentang luas, mulai dari sesama praktisi hukum, tokoh politik lintas partai, hingga pejabat daerah. Kedekatannya dengan berbagai figur berpengaruh, termasuk jaringan yang membantunya bangkit dari keterpurukan karier, menjadi bukti bahwa lingkar pertemanannya turut menopang perjalanan hidupnya menuju masa depan yang lebih baik.
Setidaknya ada lima orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Yakni, Ishak Mekki, Irwan Effendy, Syahrial Oesman, Herman Deru dan Bambang Hariyanto.
9. Ikhlas Menjalani Takdir, Termasuk Ujian Sakit yang Luar Biasa
Di balik semangatnya yang tak pernah padam, Chairul juga tengah menjalani ujian kesehatan yang berat, termasuk perjuangannya melawan penyakit ginjal hingga dua kali menjalani operasi cangkok ginjal di Mount Elizabeth Hospital Singapura dan Kamboja. Meski demikian, ia tetap memilih hadir dan mengabdi di tengah masyarakat. Sikap menerima ujian hidup dengan lapang dada ini justru menjadi salah satu hal yang paling membekas di mata orang-orang terdekatnya.
10. Berbakti kepada Orang Tua
Nilai bakti kepada orang tua tumbuh dari perjalanan hidup Chairul sendiri yang dimulai dari titik paling sederhana bersama keluarganya. Perjuangannya merintis dari nol, alih-alih meneruskan warisan usaha, mencerminkan penghormatan terhadap jerih payah keluarga yang membesarkannya di tengah keterbatasan.
11. Family Man
Sisi kekeluargaan Chairul juga tampak dalam kesehariannya sebagai figur publik. Dalam sejumlah kegiatan sosial, ia kerap didampingi putranya, Muhammad Jaya Sahputra, yang turut turun langsung menyapa dan menyerahkan bantuan kepada warga. Kehadiran keluarga dalam aktivitas pengabdiannya menunjukkan bagaimana nilai kekeluargaan tak pernah lepas dari perjalanan kariernya.
12. Konsisten
Dari penjual kopi, kernet angkot, wartawan, advokat, hingga anggota legislatif, satu benang merah yang terus terlihat dari sosok Chairul adalah konsistensi dalam mengabdi kepada masyarakat. Kebiasaan berbagi dan turun langsung ke tengah rakyat yang ia jalani sejak muda, tetap ia lakukan hingga kini menduduki kursi dewan, sebuah konsistensi yang bahkan diabadikan dalam buku biografinya, “Jejak Penjual Kopi”.
Dua belas karakter ini bukan sekadar daftar sifat baik yang berdiri sendiri-sendiri. Ia adalah cerminan dari perjalanan panjang seorang anak penjual kopi yang menapaki jalan hidup penuh onak dan duri, sebelum akhirnya menjelma menjadi sosok yang dikenal luas di Sumatera Selatan bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena bagaimana ia memperlakukan sesama di sepanjang jalan yang ia lalui. *







