Tipu Daya Gaya Machiavelli: Chairul S Matdiah Peringatkan Bahaya Politik Halalkan Segala Cara

Chairul S Matdiah.

Palembang, Gajahmatinews.com

Unggahan filosofis Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang mengangkat pemikiran Niccolo Machiavelli soal kekuasaan turut menjadi bahan renungan bagi tokoh politik Sumatera Selatan (Sumsel) Chairul S Matdiah.

Isu kepemimpinan, strategi bertahan dalam kekuasaan, hingga citra publik pejabat dinilai memiliki kaitan erat dengan dinamika politik di daerah, khususnya menjelang berbagai agenda politik dan pemerintahan di Sumsel.

Dalam unggahannya, Bambang mengutip pandangan Machiavelli bahwa seorang penguasa sebaiknya lebih memilih ditakuti ketimbang dicintai, karena cinta rakyat mudah pudar begitu ada godaan kepentingan lain, sedangkan rasa takut bertahan lebih lama akibat bayang-bayang konsekuensi.

Ia juga menyinggung nasihat klasik agar pemimpin belajar dari sifat rubah dan singa sekaligus cerdik membaca jerat sekaligus tegas melawan ancaman, namun tetap menampilkan citra yang murah hati, jujur, dan taat beragama di hadapan publik.

Namun, jika ditarik ke politik lokal yang kental dengan budaya persaudaraan dan etika kerakyatan, penggunaan taktik pragmatis yang menghalalkan segala cara dinilai memiliki dampak buruk bagi tata kelola pemerintahan dan demokrasi daerah.

Chairul S Matdiah pun membagikan pandangannya tentang gaya politik Machiavelli. Dia memahami pemikiran politik global seperti Machiavelli memang penting untuk wawasan, namun tidak bisa diterapkan secara mentah-mentah dalam budaya politik di Sumatera Selatan yang kental dengan nilai-nilai kerakyatan dan kearifan lokal.

“Filsafat politik itu banyak, dan Machiavelli adalah salah satu dari sekian banyak pemikir. Namun, kita harus sangat hati-hati mengartikannya,” ujar Chairul, yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumsel Periode 2014-2019, dan dikenal vokal dan memiliki latar belakang hukum.

Chairul S Matdiah, yang akan meluncurkan buku “Di Balik Toga Hitam” menekankan bahwa pragmatisme politik Machiavelli sering kali diartikan sebagai penghalalan segala cara demi kekuasaan. Hal ini menurutnya sangat bertentangan dengan prinsip integritas dan etika yang seharusnya dipegang teguh oleh setiap pejabat publik.

​”Dalam buku saya, saya ceritakan bagaimana saya tegas menolak uang ketok palu dan praktik-praktik koruptif lainnya. Itu bukan gaya rubah yang penuh tipu daya, melainkan ketegasan prinsip. Jika prinsip Machiavelli digunakan untuk melegalkan perilaku korupsi, main mata demi fee proyek, atau menggunakan kekuasaan untuk menindas demi rasa takut, maka itu sangat berbahaya bagi masa depan Sumatera Selatan,” tegas pria yang memiliki riwayat hidup penuh perjuangan dari bawah ini.

Terkait perdebatan dicintai atau ditakuti, politisi Partai Demokrat ini berpendapat bahwa di tengah masyarakat Sumatera Selatan yang heterogen namun menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, kepemimpinan yang mengayomi jauh lebih efektif dibandingkan kepemimpinan yang mengandalkan rasa takut.

​”Masyarakat Sumsel itu cerdas dan memiliki hati. Mereka tidak akan patuh karena takut, tapi karena mereka merasa diayomi, didengar, dan dilayani. Rasa takut itu bersifat sementara dan akan sirna begitu ada celah. Namun, rasa cinta dan kepercayaan dari rakyat yang tulus akan menjadi kekuatan yang abadi bagi seorang pemimpin,” kata Chairul yang dikenal gemar bersedekah nasi bungkus ini.

Alih-alih menjadi “rubah yang penuh muslihat,” Chairul S Matdiah menyarankan agar pemimpin dan politisi Sumatera Selatan saat ini dan di masa depan mengadopsi gaya kepemimpinan yang jujur, transparan, dan benar-benar berjuang dari bawah untuk rakyat.

​”Sumatera Selatan memiliki tantangan besar, seperti pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur yang merata, dan peningkatan kualitas pendidikan serta kesehatan. Kita butuh pemimpin yang cerdik dalam mencari solusi masalah rakyat, bukan cerdik dalam mengamankan kantong pribadi atau melanggengkan kekuasaan dinasti. Kita butuh pemimpin yang mampu menegakkan keadilan dan memberantas korupsi, bukan menakut-nakuti rakyat sendiri,” kata Chairul, Anggota Komisi I DPRD Sumsel.

Dengan semakin dekatnya tahun politik, pernyataan Chairul S Matdiah ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen politik dan masyarakat Sumatera Selatan agar tetap menjaga integritas dan memprioritaskan kepentingan rakyat di atas segala taktik politik pragmatis.

Persaingan pengaruh di internal partai, hubungan eksekutif-legislatif dalam pembahasan anggaran, hingga strategi menjaga elektabilitas jelang kontestasi politik berikutnya, sering kali mencerminkan pergulatan antara ditakuti dan dicintai yang digambarkan Machiavelli.

Chairul menilai renungan semacam ini relevan sebagai bahan evaluasi bagi para pemimpin daerah, agar kekuasaan tidak semata dijalankan dengan pendekatan represif atau sebaliknya terlalu lunak hingga kehilangan wibawa, melainkan dengan keseimbangan yang tetap berpijak pada integritas dan akuntabilitas publik. #rly

Pos terkait