DPRD Sumsel Desak Pemerintah Kejar Investasi Pabrik Ban, Optimalkan 25% Lahan Karet Nasional

Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Muhammad Yansuri. (FOTO: IST).

Palembang, Gajahmatinews.com

​Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Selatan (DPRD Sumsel) mendorong pemerintah daerah untuk bergerak cepat menjemput investasi strategis di sektor hilirisasi. Dengan luas perkebunan karet mencapai 883,3 ribu hektare atau seperempat dari total luas nasional, Sumsel dinilai sudah sangat layak memiliki pabrik pengolahan berskala besar seperti pabrik ban.

Ketua Komisi IV DPRD Sumsel Muhammad Yansuri, SIP, menegaskan bahwa melimpahnya kekayaan alam Sumsel harus berbanding lurus dengan keberadaan industri manufaktur. Ia menyayangkan hilangnya potensi ekonomi saat pabrik ban Intirub yang dulu beroperasi di Palembang justru pindah ke Jakarta.

​”Bahan baku kita melimpah dan jaraknya sangat dekat dengan sentra produksi. Seharusnya kita bisa menarik investor pabrik ban, sama halnya dengan keberhasilan investasi pabrik avtur dari sawit. Ini adalah peluang sekaligus tantangan bagi pemerintah,” tegas Yansuri, Rabu (4/2/2026).

Menurut Yansuri, kehadiran pabrik di Bumi Sriwijaya akan memberikan dampak nyata bagi masyarakat seperti efisiensi logistik dengan memangkas biaya transportasi bahan baku. Menyerap tenaga kerja lokal secara masif, meningkatkan pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menggerakkan ekonomi di sekitar kawasan industri.

​Di sisi lain, Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel menekankan bahwa hilirisasi harus berjalan beriringan dengan peremajaan lahan (replanting).

Sekjen Apkarindo Sumsel Rudi Arpian,
menyoroti kondisi jutaan hektare kebun rakyat yang sudah tua dan rentan penyakit.

​”Tanpa intervensi negara, replanting akan menjadi beban bagi petani. Hilirisasi harus menyentuh hingga ke level desa atau ‘kampung karet’,” tegas Rudi.

​Salah satu peluang unik yang dilirik adalah sinergi dengan program “Gentengisasi” nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Apkarindo mengusulkan agar lateks dan compound karet hasil produksi petani lokal dapat digunakan sebagai bahan campuran adonan genteng.

​”Ini momentum besar. Kita ingin lateks karet diproduksi langsung di kampung-kampung untuk menyuplai industri genteng nasional. Dengan begitu, karet rakyat tidak lagi hanya dijual murah sebagai bahan mentah, tapi memiliki nilai tambah tinggi,” tutupnya. (hms/ADV).

Pos terkait