Tata Kelola GSMP: Dorong Transformasi dari Konsumen Jadi Produsen Pangan

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Edward Candra.

Palembang, Gajahmatinews.com

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Dr Drs H Edward Candra, MH, menegaskan bahwa Gerakan Sumatera Selatan Mandiri Pangan (GSMP) harus dipahami sebagai sebuah gerakan sosial (movement), bukan sekadar program pemerintah yang dibatasi waktu, target, dan anggaran.

Menurutnya, kemandirian pangan tidak boleh dipersempit menjadi urusan meningkatkan produksi pertanian semata, melainkan harus menyentuh perubahan pola pikir masyarakat dalam memandang pangan sebagai sumber produktivitas dan kesejahteraan.

“Program memiliki batas waktu, target dan anggaran. Gerakan memiliki energi sosial, partisipasi, rasa memiliki, dan kemampuan untuk berkembang melampaui intervensi pemerintah,” tulis Edward Candra dalam naskah kebijakannya soal tata kelola GSMP yang kolaboratif, efektif, dan berkelanjutan.

Ia menjelaskan, penguatan ketahanan dan kemandirian pangan menjadi bagian penting dari arah kebijakan Gubernur Herman Deru dan Wakil Gubernur Cik Ujang melalui 12 program cepat HDCU.

Melalui GSMP, masyarakat yang semula hanya membeli dan mengonsumsi pangan didorong untuk memproduksi, mengelola, bahkan menjadikannya sumber pendapatan, mulai dari pekarangan yang diubah menjadi ruang produksi hingga lahan tidur yang dikembangkan menjadi sumber pangan baru.

Kaitkan Dengan Penurunan Kemiskinan

Edward Candra mengaitkan agenda pangan ini dengan capaian penurunan kemiskinan di Sumsel. Ia mengutip data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel yang mencatat tingkat kemiskinan pada Maret 2026 turun menjadi 9,50 persen, membaik 0,35 poin persentase dibandingkan September 2025. Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang menjadi sekitar 869,97 ribu orang, atau sekitar 28,3 ribu orang lebih sedikit dari periode sebelumnya.

“Rumah tangga berpendapatan rendah merupakan kelompok yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga pangan, sementara sebagian masyarakat di perdesaan memiliki sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi basis kegiatan produktif,” ungkapnya.

Menurutnya, GSMP dapat mengambil ruang strategis di antara dua persoalan itu: produksi pangan rumah tangga menekan beban konsumsi, sementara kelebihan produksi dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi baru.

Dorong Tata Kelola Kolaboratif Lintas Sektor

Dalam naskahnya, Edward Candra menegaskan pentingnya tata kelola kolaboratif yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, masyarakat, hingga media. Ia menyebut Forum Sinergi GSMP, yang mempertemukan unsur pemerintah, BPS, Bank Indonesia, OJK, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, komunitas, NGO, dan media harus diposisikan sebagai platform kolaboratif yang menghasilkan aksi kolektif, bukan sekadar forum seremonial.

Ia merinci peran masing-masing pemangku kepentingan, dunia usaha sebagai off-taker dan penggerak pasar, perguruan tinggi pada inovasi teknologi dan pendampingan, lembaga keuangan memperluas inklusi keuangan bagi pelaku usaha pangan, sementara pemerintah memastikan regulasi, insentif, infrastruktur, data, dan konektivitas antarpelaku.

Hilirisasi Jadi Kunci Nilai Tambah

Edward Candra juga menyoroti pentingnya hilirisasi produk pangan lokal seperti cabai, sayuran, beras, ikan, daging, dan telur agar keluar dari pola perdagangan komoditas mentah menuju produk bernilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, standardisasi, dan perluasan pasar. Tanpa integrasi rantai nilai dari hulu ke hilir, kata dia, peningkatan produksi justru berisiko menimbulkan kelebihan pasokan dan penurunan harga di tingkat produsen.

Ukuran Keberhasilan Harus Berbasis Outcome

Ia menekankan, ukuran keberhasilan GSMP harus bergeser dari output menuju outcome. Jumlah kelompok yang dibentuk atau bantuan yang disalurkan dinilai belum cukup ukuran yang lebih substantif adalah apakah masyarakat semakin produktif, pendapatannya meningkat, dan rumah tangga semakin tangguh menghadapi tekanan ekonomi. Untuk itu, ia mendorong penguatan sistem data, termasuk pemanfaatan DTSEN dan dashboard monitoring GSMP sebagai instrumen pengambilan keputusan, bukan sekadar alat visualisasi.

Perlu Kelembagaan Berkelanjutan

Menutup naskahnya, Edward Candra menegaskan GSMP tidak boleh berhenti ketika dukungan program atau anggaran berakhir. Ia mendorong agar prinsip, mekanisme, dan praktik baik GSMP dilembagakan melalui manual book, SOP, basis data, model kemitraan, hingga skema pembiayaan, sehingga keberlanjutannya tidak bergantung pada pergantian kebijakan maupun kepemimpinan.

“GSMP harus menjadi gerakan untuk mengubah konsumen menjadi produsen, lahan menjadi aset produktif, hasil pertanian menjadi nilai tambah, bantuan menjadi keberdayaan, dan kebijakan pangan menjadi instrumen penciptaan kesejahteraan,” tulisnya. #hms

Pos terkait