(Oleh: Dinda Ayu Wulandari | NPM: 2301110084).
Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Tridinanti Palembang.
SAAT ini, sebagian besar fragmen hidup kita telah berpindah ke dalam layar ponsel. Di era ekonomi digital yang serba cepat, muncul satu standar ukuran baru yang mendikte segalanya angka. Mulai dari jumlah pengikut (followers), suka (likes), tingkat interaksi (engagement rate), hingga jutaan pasang mata yang menonton (views). Pada awalnya, disrupsi teknologi ini dipuji karena membuka demokratisasi peluang memberikan kesempatan yang sama bagi siapa saja untuk sukses tanpa modal besar atau koneksi orang dalam.
Namun seiring waktu, kenyataan pahit mulai menyingkap wajahnya. Sistem yang semula membebaskan ini justru bermutasi menjadi jebakan baru yang kaku, tempat di mana kreativitas dan nilai kemanusiaan pelan-pelan direduksi menjadi sekadar deretan statistik di layar aplikasi.
Dampak yang paling nyata dari fenomena ini adalah merosotnya mutu konten demi menjinakkan algoritma. Ketika monetisasi dan pengakuan profesional hanya diukur dari jumlah klik, kualitas isi tidak lagi menjadi panglima. Para pembuat konten, jurnalis, bahkan institusi media akhirnya terjebak dalam lingkaran setan sensasionalisme dan umpan klik (clickbait).
Sebuah studi dari Reuters Institute menunjukkan bahwa tren jurnalisme global semakin tergerus oleh konten sensasional demi mengejar trafik. Akibatnya, karya yang mendalam, mendidik, dan penuh perenungan sering kali tenggelam. Mereka kalah telak dari konten instan yang sengaja mengeksploitasi emosi publik seperti amarah, kepanikan, atau hiburan kosong. Ruang digital kita tidak lagi dipenuhi oleh diskursus gagasan terbaik, melainkan oleh konten yang paling lihai memanipulasi perhatian kita agar betah menatap layar.
Sayangnya, komodifikasi manusia menjadi sekadar angka ini juga merembet ke sektor riil, seperti para pengemudi ojek daring dan kurir paket (gig workers). Di balik kemudahan aplikasi yang kita nikmati, ada pekerja yang nasib dan pendapatannya diatur secara mutlak oleh sistem rating bintang satu sampai lima.
Berdasarkan riset dari Fairwork Indonesia, mayoritas pekerja platform digital terjebak dalam kondisi kerja yang rentan karena algoritma menetapkan target yang sering kali tidak realistis. Sistem kecerdasan buatan ini tidak pernah peduli apakah cuaca sedang buruk, jalanan macet total, atau sang pekerja sedang kurang sehat. Begitu performa angka di aplikasi menurun, sanksi otomatis seperti suspend akan berjalan. Di titik ini, manusia tidak lagi dihargai sebagai makhluk yang memiliki batas lelah, melainkan hanya dianggap sebagai data berjalan yang harus bergerak efektif demi akumulasi kapital perusahaan.
Tekanan tanpa henti untuk menjaga kestabilan angka ini pada akhirnya merusak kesehatan mental masyarakat. Stres, kecemasan akut, hingga kejenuhan ekstrem (burnout) menjadi narasi yang lumrah di kalangan pekerja digital.
Data dari American Psychological Association (APA) bahkan mengonfirmasi adanya korelasi kuat antara durasi berburu engagement di media sosial dengan peningkatan destruktif pada kesehatan mental remaja. Ironisnya, cara pandang transaksional ini mulai diadopsi oleh generasi muda dalam menilai kehidupan pribadi mereka. Harga diri seseorang kini mengalami digitalisasi. Jika sebuah unggahan sepi penonton atau minim respons, muncul perasaan gagal dan tidak berharga. Padahal, proses kontemplasi dan pesan di dalam konten tersebut bisa jadi sangat bernilai secara intelektual.
Melihat kondisi yang kian timpang ini, kita tidak boleh tinggal diam. Perlu ada pergeseran paradigma yang masif, dari sekadar mengejar kuantitas menuju apresiasi kualitas. Langkah awal bisa dimulai dari diri kita sebagai konsumen informasi, yaitu dengan lebih selektif dalam memberikan atensi (attention economy). Kita harus berhenti memopulerkan konten kosong yang hanya mengandalkan sensasi, dan mulai mengalirkan dukungan pada karya-karya yang lebih berbobot. Di sisi lain, perusahaan pemilik platform juga memiliki tanggung jawab moral untuk “memanusiakan” algoritma mereka. Sistem harus direformasi agar tidak hanya fokus mengeruk keuntungan dari kecanduan pengguna, melainkan juga aktif menciptakan ekosistem digital yang sehat dan beretika.
Teknologi digital pada hakikatnya adalah alat yang luar biasa yang telah membuka banyak pintu peluang baru. Namun, kita harus kembali pada khitah bahwa teknologi ada untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. Jangan biarkan deretan angka mati di layar gawai mendikte kebahagiaan, kewarasan, dan harga diri kita.
Bagaimanapun, hal-hal terbaik dalam hidup seperti ketulisan, kreativitas, empati, dan ketenangan pikiran adalah entitas luhur yang tidak akan pernah bisa diukur oleh angka views.
Sebab pada akhirnya, peradaban yang maju tidak diukur dari seberapa banyak jumlah views yang kita kumpulkan, melainkan dari seberapa besar nilai kemanusiaan yang berhasil kita pertahankan di balik layar.
Mari kembali memegang kendali atas teknologi, sebelum deretan angka di layar gawai benar-benar menghapus batas antara manusia dan mesin. *







