MINGGU (11/10/2026) malam, pukul 19.42 WIB, pesan-pesan itu masuk beruntun dalam hitungan menit. Isinya bukan pengumuman, bukan pula pernyataan politik.
Ada 15 rangkaian renungan pesan yang dikirimkan politisi Chairul S Matdiah, tentang hidup, ujian, ketenangan batin, hingga jabatan, yang dibaca seperti catatan harian seseorang yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri sekaligus dengan banyak orang.
Tidak lupa dua buah foto juga muncul di layar handphone. Foto pertama, Chairul S Matdiah berdiri berdampingan di depan kaca bermotif ornamen. Ia memakai peci hitam, jas hitam, kemeja putih, dasi merah bergaris, dan pin di kerah jas. Chairul ditemani sang istri Anisah Mardin di sebelahnya yang berhijab krem dengan selendang bermotif cokelat, busana merah muda, jam tangan, dan tas bermotif monogram cokelat. Ia memegang ponsel di tangannya. Keduanya tersenyum ke kamera, dan fotonya tampak diambil di dalam gedung.
Di foto kedua, Chairul duduk santai di kursi berbalut kain putih dalam sebuah acara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Griya Agung. Ia mengenakan kacamata hitam model aviator, jas cokelat tua bergaris-garis, kemeja bergaris, dasi biru, dan pin berlambang di kerah jas. Tenda di belakangnya berhias kain merah putih. Suasananya mirip upacara kenegaraan di ruang terbuka, dengan langit mendung.
Chairul membuka rangkaian itu dengan perumpamaan tentang laut dan pelayaran.
“Jangan takut ketika arah hidup anda harus berbelok. Angin yang berganti arah tidak pernah menghancurkan kapal yang tangguh, ia hanya menuntut jurumudi untuk menyesuaikan layar agar sampai di dermaga kebijaksanaan yang baru,” tulisnya.
Tentang ujian dan tempaan
Dari laut, renungan beralih pada ujian yang datang dalam kehidupan, lengkap dengan pengingat tentang betapa fananya dunia.
“Di tengah sakit ujian Allah, kita diingatkan betapa fananya harta yang kita cari dan megahnya dunia. Saat segalanya sirna dalam sekejap kalau Allah SWT menghendaki,” tulisnya.
Chairul kemudian menegaskan bahwa ketangguhan tidak lahir dari kenyamanan.
“Ketangguhan sejati tidak pernah lahir dari tempat yang nyaman, melainkan ditempa di dalam kawah ujian dan tekanan. Kenyamanan memang menenangkan, tetapi kesulitanlah yang membentuk jiwa menjadi kokoh, bijaksana, dan tak mudah goyah,” ujarnya.
Ia mengulangi gagasan itu lewat gambaran yang lebih membumi, yakni jalan mendaki.
“Hidup yang tangguh tidak lahir dari jalan yang rata, melainkan dari keberanian mendaki tanjakan tajam dan melintasi berbatu. Setiap kerikil ujian adalah tempaan yang menguatkan pijakan, membentuk jiwa yang tak mudah goyah oleh badai,” tulisnya.
Pesan lain memakai perumpamaan yang lebih keras.
“Tekanan hidup bukanlah tanda kehancuran, melainkan proses pemurnian karakter. Sebagaimana intan yang terbentuk dari beban yang berat, jiwa yang tangguh menemukan bentuk terbaiknya justru saat diuji oleh himpitan keadaan,” katanya.
Tak ketinggalan, ia menyinggung soal kesabaran lewat bahasa dapur.
“Proses merebus butuh waktu dan suhu yang pas; begitu pula hidup. Jangan terburu-buru menuntut hasil jika batin belum cukup matang ditempa keadaan, sebab kearifan terbaik hanya lahir dari proses yang dihayati dengan sabar,” tulisnya.
Damai di dalam dada
Di tengah rangkaian pesan tentang ketangguhan, Chairul menyelipkan soal ketenangan batin.
“Badai hanya sanggup menghempaskan apa yang tampak di permukaan, tetapi tak akan mampu menyentuh jiwa yang dipenuhi damai karena Allah SWT. Ketenangan batin adalah benteng tertinggi yang menjaga nurani tetap teduh dan penuh harapan,” tulisnya.
Ia juga menyoroti hal-hal yang kerap merenggut damai itu.
“Sering kali kita kehilangan damai karena terjebak dalam obsesi untuk membuktikan diri, mengejar pengakuan orang lain, atau membandingkan pencapaian kita dengan rekan sebaya,” ujarnya.
Pesan berikutnya menyambung gagasan tersebut.
“Hati yang terbagi oleh cemas dan ambisi akan selalu merasa lelah, meski tak melangkah jauh. Namun hati yang utuh dalam kepasrahan dan rasa syukur akan menemukan kedamaian yang kokoh, meski di tengah badai kehidupan,” tulisnya.
Lidah, jabatan, dan kehormatan
Sebagai politisi, Chairul tak lupa menyentuh soal ucapan dan kekuasaan. Tentang lidah, ia menulis dengan nada peringatan.
“Lidah adalah pedang tanpa bilah, ia sanggup merajut kedamaian atau merobek nurani dalam sekejap. Menjaganya tetap tenang adalah seni menjaga kehormatan diri dan melindungi kedamaian jiwa orang lain,” tulisnya.
Tentang jabatan, ia menulis lebih singkat, tetapi tajam.
“Jabatan dan wewenang hanyalah gaun sementara yang kelak harus ditanggalkan, namun integritas dan jejak kebaikan akan tinggal abadi,” ujarnya.
Berdiri tegak dan mengulurkan tangan
Rangkaian itu kemudian bergerak ke arah kemandirian dan keberanian melangkah.
“Pohon yang kokoh tidak meminta angin untuk berhenti bertiup, melainkan memperdalam akarnya sendiri. Bersandar pada potensi batin anda, adalah bentuk tertinggi dari kemerdekaan dan penguasaan diri,” tulisnya.
“Masa depan tidak menuntut anda untuk mengetahui seluruh jalannya, ia hanya meminta keberanian anda untuk melangkah. Berdirilah tegak, pimpin diri anda sendiri, dan izinkan keyakinan dalam dada anda menerangi setiap ketidakpastian di depan,” lanjutnya.
Pesan terakhir mengajak pembaca melihat ke luar diri, kepada sesama.
“Jangan tunggu hingga diri anda sempurna untuk mengulurkan tangan. Saat anda menopang saudara yang hampir jatuh, anda sebenarnya sedang memperkuat pijakan kaki anda sendiri di atas jalan kebaikan,” tulisnya.
Sapaan yang lebih hangat
Di sela rangkaian renungan yang bernada tegas itu, terselip satu pesan yang berbeda, lebih lembut, dan terbaca seperti sapaan pribadi.
“Selamat pagi…
Entah kenapa, pagi ini aku ingin menyapamu sedikit lebih lama.
Bukan karena ada sesuatu yang harus disampaikan, hanya ingin memastikan bahwa di antara begitu banyak hal yang memenuhi harimu, ada satu doa kecil yang sampai kepadamu.
Semoga hatimu tenang hari ini.
Semoga langkahmu dimudahkan.
Semoga segala sesuatu yang sedang kamu perjuangkan menemukan jalannya.
Dan kalau nanti hari terasa melelahkan, ingatlah… di suatu tempat, ada seseorang yang tetap berharap kamu sehat baik-baik saja.
Selamat menjalani hari.
Jangan lupa tersenyum… karena mungkin ada seseorang yang diam-diam bahagia hanya karena tahu kamu sedang baik.
Dari rangkaian pesan itu, Chairul S Matdiah menyampaikan gagasan yang berulang, ujian dan tekanan hidup menempa jiwa, ketenangan batin menjadi benteng, jabatan hanyalah titipan sementara, dan kebaikan kepada sesama justru menguatkan diri sendiri.
Pesan-pesan yang dikirim pada Minggu malam itu ditutup dengan doa dan harapan yang sederhana, yakni agar siapa pun yang membacanya tetap tenang, sehat, dan melangkah dengan tegar. *







